Share

Mitos dan Fakta Seputar Kecanduan Seks yang Wajib Diketahui

Tim Okezone, Okezone · Kamis 22 September 2022 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 18 2672289 mitos-dan-fakta-seputar-kecanduan-seks-yang-wajib-diketahui-t2qNhPSGBq.JPG Ilustrasi/ Foto: Freepik

JAKARTA - Kecanduan seks semula hendak dimasukkan dalam Panduan Diagnosa dan Statistik Gangguan Jiwa (DSM) edisi 2013, yang banyak digunakan di Inggris dan Amerika Serikat, namun ditolak karena kekurangan bukti.

Bagaimanapun, 'perilaku seksual kompulsif' kini tengah diajukan untuk masuk ke dalam panduan Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) yang dibuat Organisasi Kesehatan Dunia.

 BACA JUGA:Polri Siapkan 5.746 Personel Amankan Pelaksanaan Presidensi G20

Judi tadinya masuk kategori perilaku kompulsif, namun diberikan status diagnosa formal sebagai kecanduan pada 2013 setelah bukti-bukti baru bermunculan. Para ahli terapi meyakini kecanduan seks dapat menempuh jejak yang sama.

Sebuah kajian yang dirilis pada 2014, menunjukkan aktivitas otak para "pecandu seks" yang sedang menonton film porno sama dengan aktivitas otak para pecandu narkoba ketika diperlihatkan jenis narkoba yang mereka pilih.

Saat itu, Dr Valerie Voon dari Universitas Cambridge selaku ketua tim peneliti, mengatakan ini merupakan kajian pertama yang meninjau orang-orang yang mengidap gangguan tersebut dan mencermati aktivitas otak mereka.

"Tapi saya pikir kami belum cukup paham saat ini untuk mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah kecanduan," katanya dilansir dari BBC, Rabu (21/9/2022).

 BACA JUGA:Daftar Negara Maju dan Berkembang di Asia Serta Karakteristiknya

Keyakinan Anda bahwa seseorang bisa kecanduan seks amat tergantung dari apa yang Anda pikir bisa membuat kecanduan, dan tidak ada definisi resmi yang benar-benar diterima.

Jika hal tersebut murni membuat seseorang menjadi ketergantungan fisik, sehingga menjauh dari hal tersebut bisa menyebabkan cedera fisik, maka seks "tidak bisa menjadi ketergantungan", menurut Dr Frederick Toates selaku profesor emeritus di Open University.

Meski demikian, dia meyakini definisi yang lebih luas soal ketergantungan akan lebih berguna.

Dr Toates mengatakan ada dua elemen penting yang menandai kecanduan, yakni pencarian kepuasan dan adanya konflik seputar perilaku pencarian tersebut.

Pencarian kepuasan, menurut banyak pakar, membedakan kecanduan dengan perilaku obsesif kompulsif, meskipun ada kemiripan. Pengidap kecanduan akan mencari kepuasan jangka pendek, meskipun ada dampak negatifnya dalam jangka panjang.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Kebalikan dengan kecanduan, pengidap gangguan obsesif kompulsif terlibat dalam perilaku yang tidak menghasilkan kepuasan, kata Dr Toates.

Akan tetapi semua manusia mencari kenikmatan dan kepuasan. Lalu apa yang membedakan perilaku mencari kepuasan biasa dengan kecanduan?

Ahli psikologi Dr Harriet Garrod menilai sebuah perilaku tergolong kecanduan ketika mencapai taraf intensitas yang menyebabkan dampak negatif terhadap individu dan mereka yang berada di sekitarnya.

Kecanduan makanan dan judi telah masuk golongan perilaku yang bisa didiagnosa sebagai gangguan, sedangkan kecanduan seks belum masuk golongan tersebut karena telah berada dalam kesadaran publik lebih lama, ujarnya.

Artinya, perlu banyak orang yang mencari pertolongan medis sehingga menyediakan lebih banyak bukti untuk mendukung bahwa perilaku mereka adalah kecanduan, kata Dr Garrod.

Dr Abigael San, seorang ahli psikologi klinis yang meyakini perilaku seksual bisa menjadi candu. Namun, bagi orang yang merasa kehilangan kendali, seks sebenarnya adalah lapisan kedua dari masalah sebenarnya, entah itu depresi, kecemasan, atau trauma. Dengan demikian, orang tersebut menggunakan seks sebagai alat untuk meredam masalah sebenarnya.

"Kegiatan dan substansi berbeda mengaktifkan jalur kepuasan dalam cara berbeda, namun kegiatan itu masih mengaktifkan jalur kepuasan," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini