Share

9 Orang Jadi Tersangka Kasus Rentenir Robohkan Rumah Warga Garut, Ini Perannya

Fani Ferdiansyah, Koran Sindo · Rabu 21 September 2022 04:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 525 2671647 9-orang-jadi-tersangka-kasus-rentenir-robohkan-rumah-warga-garut-ini-perannya-kZTkTg7JGc.jpg Tersangka rentenir robohkan rumah warga Garut (Foto: Fani Ferdiansyah)

GARUT - Polisi akhirnya menetapkan rentenir wanita berinisial A sebagai tersangka. Bukan hanya A, sebanyak delapan orang lainnya juga turut menjadi tersangka dalam kasus perobohan rumah warga di Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, beberapa waktu lalu.

Kapolres Garut AKBP Wirdhanto Hadicaksono, mengatakan, telah mengamankan total sembilan orang di kasus ini. Mereka adalah A sebagai pemberi jasa pinjamam uang, Entoh atau kerabat korban yang menjual rumah dan tanah secara sepihak, serta tujuh warga yang diperintah untuk membongkar rumah.

"Kasus ini bermula dari pelaporan warga bernama Undang ke Polsek Banyuresmi lalu kemudian ditindaklanjuti oleh Satreskrim Polres Garut. Setelah melakukan penyelidikan dan penyidikan, akhirnya kami mengamankan sembilan orang tersangka ini," kata AKBP Wirdhanto Hadicaksono, Selasa (20/9/2022).

 BACA JUGA:Rumah Warga Garut Dirobohkan Rentenir Imbas Utang Rp1,3 Juta, Ini Kata Ridwan Kamil

Menurut Kapolres Garut, kasus yang ditangani pihaknya ini bermula dari penggelapan hak atas tanah yang kemudian berkembang menjadi pengrusakan. Tersangka rentenir berinisial A dan tersangka Entoh, lanjutnya, melakukan tindakan jual beli rumah serta tanah milik korban bernama Undang.

"Pada 7 September 2022, tersangka Entoh yang merupakan kerabat korban mendatangi tersangka A, untuk menawarinya tanah dan bangunan milik korban. Tujuannya untuk melunasi utang dari korban itu sendiri," ujarnya.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Tersangka Entoh hanya mengetahui jika utang yang mesti dilunasi sebesar Rp15 juta. Sementara rumah korban, dihargai sebesar Rp20,5 juta.

"Dari uang itu tersangka Entoh hanya menerima uang Rp5,5 juta, usai dipotong dari utang kepada tersangka A. Tentunya jual beli ini di luar sepengetahuan Undang dan keluarganya selaku korban," ucapnya.

Kemudian, pada 10 September 2022, tersangka A menyuruh tujuh orang warga untuk melakukan pembongkaran rumah korban karena merasa telah memilikinya. Ketujuh tersangka pembongkaran ini adalah NN, AC, AK, EN, BI, US, dan MA.

"Semuanya melakukan pembongkaran yang di antaranya membongkar atap genteng rumah, menurunkan genteng ke bawah secara estafet, membongkar dinding bilik, serta membongkar palang–palang bambu dan kayu rumah tersebut. Alat-alat yang digunakan perkakas pertukangan sederhana," ungkapnya.

Barang bukti yang diamankan terdiri dari satu photocopy SHM atas nama Undang yang telah dilegalisir oleh BPN, satu linggis, satu palu, satu kampak, satu gergaji, dua serpihan kayu dan bilik, dua palang bambu dan kayu, satu SHM atas nama Undang, satu lembar kwitansi utang-piutang, serta satu kwitansi jual-beli.

"Tersangka A kami jerat dengan Pasal 170 Ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 KUHP juncto Pasal 56 KUHP dan atau Pasal 406 KUHP. Tersangka Entoh kami jerat dengan Pasal 385 KUHP, dan tujuh tersangka lainnya Pasal 170 KUHP dan atau Pasal 406 KUHP," sebutnya.

Adapun untuk ancaman hukuman yang menjerat para tersangka, Pasal 170 Ayat (1) KUHP memiliki ancaman hukuman selama lima tahun penjara, Pasal 406 KUHP memiliki ancaman hukuman 2,8 tahun penjara, dan Pasal 385 KUHP diancam hukuman paling lama 4 tahun penjara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini