Share

Racuni Anaknya demi Uang Sumbangan, Ibu Kejam Divonis Mati

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 22 September 2022 18:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 18 2672955 racuni-anaknya-demi-uang-sumbangan-ibu-kejam-divonis-mati-MShta745Ur.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

BANGKOK - Pada Januari 2020, Nattiwan Rakkunjet membawa putranya yang berusia empat tahun ke rumah sakit di Thailand. Bocah itu sakit perut dan muntah darah, dan Rakkunjet memberi tahu dokter bahwa putranya menderita alergi makanan laut.

Tetapi, penyelidikan menemukan bahwa Nattiwan sebenarnya telah meracuni kedua anaknya — dan telah membunuh salah satunya. Sekarang, ibu kejam itu telah dijatuhi hukuman mati.

Diwartakan Bangkok Post, Nattiwan mengadopsi salah satu anaknya, perempuan, pada 22 April 2015. Tak lama setelah adopsi, Nattiwan mulai memberi makan putrinya yang dicampur dengan “zat korosif”. Gadis itu semakin sakit, muntah darah, dan menderita sakit perut. Pada Agustus 2019, dia meninggal karena pendarahan internal.

Meskipun dokter tidak memperlakukan kematian gadis itu sebagai hal yang mencurigakan pada saat itu, kecurigaan mereka muncul pada Januari 2020, ketika Nattiwan kembali ke rumah sakit. Kali ini, putra kandungnya menderita gejala serupa. Bangkok Post melaporkan bahwa Nattiwan mulai meracuni putranya ketika dia berusia 2 tahun, pada September 2017, dan berlanjut hingga awal 2020.

Dokter memeriksa bocah itu dan menemukan bahwa dia tidak menderita alergi makanan laut. Sebaliknya, menurut Vice, mereka menemukan bahwa dia mengalami infeksi perut yang parah.

Tetapi ini bukan infeksi perut biasa. Para dokter menemukan bahwa mulut, perut, dan usus anak laki-laki itu mengandung jejak bahan kimia korosif yang ditemukan di pembersih kamar mandi.

Pada 18 Mei 2020, Nattiwan Rakkunjet ditangkap. Seperti yang dilaporkan Bangkok Post, pihak berwenang Thailand mendakwanya dengan perdagangan manusia karena menggunakan anak-anak untuk meminta sumbangan, pembunuhan dan percobaan pembunuhan, melakukan penipuan, dan memasukkan informasi palsu ke dalam sistem komputer.

Mengapa meracuni anak-anaknya? Pengadilan menemukan bahwa motivasi Nattiwan Rakkunjet terutama adalah finansial. Setelah dia memposting foto putra dan putrinya yang terlihat sakit secara online, orang asing menawarkan uang kepadanya melalui media sosial. Vice melaporkan bahwa polisi menemukan 20 juta baht (sekira Rp8 miliar) di rekening bank Nattiwan yang mereka yakini diambil dari sumbangan online.

Dilansir dari All That Interesting, Nattiwan dinyatakan bersalah atas semua tuduhan terhadapnya. Dia juga mengaku meracuni anak-anaknya, tetapi pengadilan memutuskan bahwa karena Nattiwan hanya mengaku setelah dihadapkan dengan banyak bukti yang memberatkannya, pengakuannya tidak akan menghasilkan pengurangan hukuman. Pada akhirnya, pengadilan Thailand menjatuhkan hukuman mati padanya.

Pengadilan juga memutuskan bahwa Nattiwan harus mengembalikan sumbangan senilai 42.000 baht (sekira Rp16,8 juta), dan menyita ponsel yang dia beli menggunakan uang yang dia peroleh secara online dengan memposting foto anak-anaknya.

Menurut Bangkok Post, sekira 300 orang telah dieksekusi di Thailand selama 70 tahun terakhir. Laju eksekusi cukup lambat — Amnesty International melaporkan bahwa eksekusi terjadi pada 2003, 2009, dan 2018 — tetapi ratusan orang berada di hukuman mati masih menunggu eksekusi.

Pada 2018, menurut Kementerian Kehakiman, 510 orang terpidana mati di Thailand. Sembilan puluh empat dari mereka adalah perempuan, dan lebih dari setengahnya telah dijatuhi hukuman mati karena pelanggaran terkait narkoba. Seperti yang dilaporkan Amnesty International, hukuman mati di Thailand tetap wajib untuk banyak kejahatan, termasuk pembunuhan berat.

Dengan demikian, Nattiwan Rakkunjet mungkin akan berada di hukuman mati selama bertahun-tahun yang akan datang. Untuk saat ini, tidak ada kabar jika dia berencana untuk mengajukan banding atas hukumannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini