Share

Polemik Mahsa Amini, Pemimpin Tertinggi Iran: Kerusuhan Dirancang Negara Barat dan Zionis untuk Hancurkan Keamanan Negara

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 07 Oktober 2022 18:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 07 18 2682841 polemik-mahsa-amini-pemimpin-tertinggi-iran-kerusuhan-dirancang-negara-barat-dan-zionis-untuk-hancurkan-keamanan-negara-9PGwjbrrdn.jpg Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (Foto: Reuters)

JAKARTAPemerintah Iran menilai banyak fitnah yang dilancarkan oleh pihak musuh kepada bangsa dan pemerintah Republik Islam Iran. Hal ini terkait dengan berbagai pemberitaan yang beredar tentang seorang wanita bernama Mahsa Amini yang ditemukan meninggal usai ditahan polisi terkait penertiban aturan berhijab.

Pemimpin Agung Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam acara wisuda taruna sejumlah Akademi Militer, Angkatan Bersenjata Iran, mengatakan, kerusuhan dan kekacauan terbaru di Iran dirancang oleh negara-negara Barat dan Rezim Zionis, orang-orang bayaran mereka, serta beberapa orang Iran pengkhianat di luar negeri.

Khamenei menegaskan, rakyat Iran, dalam peristiwa ini sebagaimana juga dalam peristiwa-peristiwa lainnya akan sepenuhnya memiliki kekuatan untuk menghadapi gangguan ini. Termasuk di masa mendatang.

Baca juga: Selidiki Kematian Mahsa Amini, Iran Bentuk Tim Investigasi dan Pencari Fakta

Menurut dia, pihak yang paling depan dalam mengadapi gangguan ini adalah rakyat pemberani dan mukmin Iran.

Baca juga: Tragedi Kematian Mahsa Amini, Protes Paling Parah di Iran dalam Sejarah, 35 Orang Meninggal

Khamenei menganggap rakyat Iran layaknya junjungannya yaitu Imam Ali AS, adalah rakyat yang tertindas, tapi pada saat yang sama adalah bangsa yang kuat.

"Dalam peristiwa yang baru saja terjadi, seorang perempuan muda (Mahsa Amini) meninggal dunia, dan ini membuat hati kita semua terbakar, akan tetapi reaksi atas peristiwa ini yang dilakukan tanpa penyelidikan dan tanpa ada kepastian terkait apa yang sebenarnya terjadi, lalu sebagian orang turun ke jalan membuat kekacauan, membakar Al Quran, mencopot paksa hijab seorang perempuan, membakar masjid, tempat ibadah, dan kendaraan masyarakat, ini bukanlah reaksi yang biasa dan normal,” terangnya dalam siaran pers yang dirilis Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Khamenei menilai kerusuhan terbaru di Iran sudah direncanakan sebelumnya. Menurutnya, jika tidak ada peristiwa meninggalnya perempuan muda itu, dalih lain akan dicari oleh pihak musuh agar kekacauan dan kerusuhan bisa diciptakan di Iran.

Ia juga menekankan bahwa belasungkawa negara-negara Barat atas meninggalnya seorang perempuan di Iran adalah dusta, dan bertolak belakang dengan tampilan luar mereka. Mereka dianggap bergembira karena mendapatkan alasan untuk menciptakan insiden.

"Di Iran, pejabat tiga lembaga tinggi negara telah menyampaikan belasungkawa, dan Mahkamah Agung Iran sudah berjanji untuk mengusut kasus ini sampai akhir," ujarnya.

Khamenei juga menyinggung kemajuan yang cepat di semua bidang di Iran. Selain itu, Iran juga bekerja keras untuk menyelesaikan sebagian permasalahan lama, serta mengaktifkan bidang produksi, perusahaan berbasis sains, dan kemampuan negara untuk menggagalkan sanksi.

"Saya hidup di tengah suku Baluch, dan mereka sangat setia kepada Republik Islam Iran, suku Kurdi, juga salah satu suku termaju di Iran, dan mereka mencintai negaranya, mencintai Islam dan Republik Islam, maka dari itu skenario musuh tidak akan berhasil terhadap mereka,” ungkapnya.

Dia menjelaskan beberapa orang yang turun ke jalan, adalah sisa-sisa oknum yang sebelumnya mendapatkan hukuman dari Iran seperti kelompok teroris MKO, kelompok separatis, kelompok monarki, dan keluarga dinas intelijen Shah Iran yaitu Savak.

Dia menegaskan Mahkamah Agung harus mengadili serta menghukum mereka sesuai tingkat keterlibatan dalam perusakan dan gangguan keamanan di jalan-jalan.

Khamenei menuturkan, skenario dan aksi musuh menunjukan batin mereka, yaitu permusuhan dengan bangsa dan negara Iran. Mereka berusaha menciptakan kerusuhan, menghancurkan keamanan negara, dan memprovokasi orang-orang yang mungkin bisa diprovokasi dengan sejumlah kegemparan.

“Mereka (pihak musuh) menginginkan Iran seperti masa Pahlavi (Shah Iran), yang selalu patuh pada perintah mereka," imbuhnya.

Menurut Khamenei, banyak perempuan di Iran yang tidak mengenakan hijab secara sempurna, tapi merupakan pendukung serius Republik Islam Iran, dan mereka hadir di berbagai pentas untuk kemajuan negara.

“Pihak musuh tidak bisa melihat negara kami sebagai negara yang mandiri, kuat dan islami,” tambahnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini