Share

Ini Bagian-Bagian Bangunan Keraton Yogyakarta Beserta Artinya

Erfan Erlin, iNews · Selasa 08 November 2022 13:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 08 510 2703251 ini-bagian-bagian-bangunan-keraton-yogyakarta-beserta-artinya-4zZofJrgPs.jpg Keraton Yogyakarta/Jogja

YOGYAKARTA - Setelah terpisah dengan Kasunanan Solo, Ngayogyakarto Hadiningrat akhirnya berdiri sendiri.Pada tahun 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi, mulai membangun Kota Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I membangun Keraton dalam waktu satu tahun.

Cucu dari Sri Sultan HB VIII, Gusti Kukuh Hestrianing menyebut melalui sebuah 'lelaku' Sri Sultan HB I berhasil menemukan sebuah lokasi yang cocok untuk pembangunan Keraton Yogyakarta.

Lokasi tersebut adalah di sumber mata air Umbul Pacethokan.

"Lokasi pembangunannya juga dipilih dekat dengan sumber mata air Umbul Pacethokan karena ada beberapa kelebihan,"terang dia.

Di mana kontur tanah wilayah bangunan keraton lebih tinggi, seperti as punggung kura-kura, dengan diapit oleh 6 sungai, 3 di timur, dan 3 di barat, sehingga bebas dari banjir.

Selain sebagai perindang, aneka vegetasi juga ditanam di seputar keraton sebagai media menambatkan makna kehidupan.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Kemudian pengejawantahan konsep ke dalam tata ruang Kota Yogyakarta dihasilkan dari proses menep atau perjalanan hidup Pangeran Mangkubumi.

Dilahirkan sebagai putra Raja Mataram, Sunan Amangkurat IV, Pangeran Mangkubumi tumbuh besar di lingkungan Keraton Kartasura.

Karena perpindahan lokasi istana, berikutnya Pangeran Mangkubumi mengetahui persis seluk beluk Keraton Surakarta.

"Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan konsepsi Jawa dengan mengacu pada bentang alam yang ada, seperti gunung, laut, sungai, serta daratan,"terang dia.

Dikutip dari situs Kraton.id prinsip utama yang dijadikan dasar pembangunan keraton oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah konsepsi Hamemayu Hayuning Bawono.

Artinya membuat bawono (alam) menjadi hayu (indah) dan rahayu (selamat dan lestari).

Konsep-konsep tersebut diejawantahkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dengan Laut Selatan dan Gunung Merapi sebagai poros.

Alun-Alun Selatan yang sekitarnya ditanami pohon pakel dan kweni. Pohon- pohon ini melambangkan pemuda yang sudah akil balig dan sudah wani (berani) meminang gadis pujaannya. Kemudian,ebih ke utara, terdapat Siti Hinggil Kidul (kini dikenal sebagai Sasana Hinggil Dwi Abad).

Di area Siti Hinggil Kidul juga terdapat pohon pelem cempora dan pohon soka.

Pelem cempora yang berbunga putih melambangkan benih laki-laki dan soka yang berbunga merah melambangkan benih perempuan.

Di kiri dan kanan Siti Hinggil Kidul terdapat jalan yang bernama Pamengkang, yang berarti posisi kaki yang berjauhan satu sama lain. Melambangkan gerbang menuju rahim.

Lebih ke utara, terdapat kompleks Kamandhungan yang berasal dari kata kandungan. Simbol sukma atau janin yang menunggu dilahirkan.

Di sebelah utara Kamandhungan terdapat pelataran Kemagangan, yang melambangkan bahwa anak perlu magang untuk menjadi manusia dewasa.

Maka dari itu, di kiri kanan Kemagangan terdapat kampung Sekullanggen dan Gebulen, tempat tinggal Abdi Dalem yang biasa sebagai juru masak keraton.

Penempatan kampung itu memberi arti bahwa anak yang sedang tumbuh dan Gebulen, tempat tinggal Abdi Dalem yang bertugas sebagai juru masak keraton.

Penempatan kampung itu memberi arti bahwa anak yang sedang tumbuh memerlukan kecukupan makanan.

Seputar area tersebut ditanami pohon jambu dersana (Syzgium malaccense/Eugenia malaccensis) yang bermakna keteladanan (sinudarsana).

Alun-alun diambil dari kata alun (ombak), menggambarkan berbagai gelombang yang dihadapi manusia sebelum kembali kepada Penciptanya.

Gambaran ombak ini diwujudkan dalam bentuk pasir yang mengelilingi area Alun-Alun Tengah

Lebih ke selatan lagi, terdapat area Siti Hingil Lor. Di area tersebut terdapat pohon gayam, kepel (Stelechocarpus burahol, dan kemuning (Murraya paniculata).

Pohon kepel dimaknai sebagai tangan yang mengepal, melambangkan tekad dan kemauan untuk bekerja sebagai manusia dewasa.

Pohon kemuning dimaknai sebagai ning yang berarti keheningan sebagai lambang kesucian dan pikiran yang jernih.

Di selatannya adalah Kamandhungan Lor atau yang lebih dikenal dengan sebutan pelataran Keben.

Disebut demikian karena di area ini terdapat pohon keben (Barringtonia asiatica) yang bermakna tangkeben atau menutup.

Bahwa dalam usia senja, perjalanan manusia harus bisa menutup segala tingkah laku yang kurang elok.

Selanjutnya, area berikutnya adalah pelataran Srimanganti. Di area tersebut terdapat Bangsal Trajumas.

Traju berarti timbangan, dan mas berarti logam mulia.

Bangsal ini melambangkan bahwa manusia akan ditimbang amal baik dan buruknya di alam penantian (manganti) menuju keabadian.

Alam abadi di Keraton Yogyakarta diwakili dengan pelita Kiai dan Nyai Wiji yang disimpan di Gedhong Prabayaksa, kompleks Kedhaton.

Kedua pelita itu dijaga hingga tidak pernah padam sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono | sampai sekarang. Apinya diambil dari sumber api abadi Mrapen.

Di halaman Kedhaton, ditanam pohon sawo kecik (Manilkara kauki), jambu klampok arum (Syzygium jambos), dan kantil (Magnolia champaca).

Sawo kecik menyimbolkan perbuatan sarwo becik (serba baik). Pohon jambu klampok arum membawa pesan agar manusia bersikap “harum”, baik dalam ucapan dan tindakan.

Pohon kantil memiliki makna kemantil-mantil atau selalu teringat. Artinya supaya manusia selalu ingat untuk berbuat baik.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini