Share

Geger Guru SMA di Sragen Bully Siswi Gegara Tak Berjilbab, Begini Ceritanya

Joko Piroso, iNews · Senin 14 November 2022 19:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 14 512 2707404 geger-guru-sma-di-sragen-bully-siswi-gegara-tak-berjilbab-begini-ceritanya-B1zWNg5Dyd.jpg Ilustrasi Covid-19 (Foto: Reuters)

SRAGEN - Oknum guru di SMA Negeri 1 Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah melakukan bullying terhadap siswi yang tidak memakai jilbab saat bersekolah.

Pada saat oknum guru membullying siswinya, ketika menggelar kegiatan Roots Day dalam rangka deklarasi dan kampanye anti bullying atau anti perundungan.

 BACA JUGA:Seorang Perempuan Jadi Korban Penganiayaan karena Menagih Utang

Kegiatan anti perundungan ini dilakukan untuk mendorong siswa- siswi sebagai agen perubahan dalam mencegah perundungan, kekerasan, serta pelecehan di lingkungan sekolah.

Deklarasi Roots Day ini bisa memberikan semangat para siswa- siswi dan guru sekolah untuk bersama-sama memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak, terutama dari tindakan perundungan.

Pada deklarasi melawan bullying ini, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sumberlawang, Suranti Tri Umiatsih dan para murid melakukan tanda tangan serentak di papan tulis. Harapannya tidak ada lagi aksi bullying di sekolah.

Sementara itu, orangtua siswa SMA Negeri 1 Sumberlawang yang mendapat perundungan, Agung Purnomo meminta pihak sekolah dan Pemerintah Kabupaten Sragen memberikan kepastian dan jaminan anaknya akan bisa diterima dengan baik.

BACA JUGA:Pihak Kampus Diminta Jamin Keselamatan Mahasiswa UIN Korban Penganiayaan Senior hingga Selesai Kuliah 

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Pihaknya menyayangkan Roots Day yang digelar oleh pihak sekolah yang menurutnya terkesan tak menyelesaikan permasalahan yang dialami putrinya.

Deklarasi anti perundungan dan kekerasan dinilai tidak ada solusi bagi dirinya. Pihaknya berharap, ada solusi yang dibahas dalam ruang tertutup dengan melibatkan pihak sekolah.

Sementara Guru Matematika SMA Negeri 1 Sumberlawang, Suwarno meminta maaf kepada pihak orangtua siswi.

Pihaknya menyampaikan secara umum di kelas supaya anak yang lain tahu, bahwa memakai jilbab bukan karena pakaian budaya atau patut-patutan. Namun, memakai jilbab itu karena perintah Allah.

Sehingga memakai jilbab itu perintah Allah, bukan karena perintah gurunya. Dirinya ingin anak-anak memakai jilbab dengan kesadaran diri, ikhlas, tidak dipaksa dan tidak ditekan.

"Saya menyampaikannya seperti itu," ujar Suwarno.

Suwarno mengatakan, maksud penyampaiannya itu hanya sebatas memberi nasihat antara guru kepada muridnya. Dia tidak ada niatan untuk memaksa apalagi melakukan perundungan.

Ia juga mengaku menyampaikan dengan kata-kata yang biasa. Tidak ada niat memojokkan atau dengan kata-kata yang keras, seperti membentak-bentak.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini