Share

Siswa SD Dikeroyok hingga Koma, Ayah Korban Bilang Anaknya Masih Trauma

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 24 November 2022 13:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 519 2713979 siswa-sd-dikeroyok-hingga-koma-ayah-korban-bilang-anaknya-masih-trauma-krrjQtF91i.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

MALANG - Orangtua korban pengeroyokan siswa sekolah dasar (SD) hingga mengalami koma, mengaku anaknya masih merasa trauma dan takut. Bahkan beberapa kali anaknya berinisial MW sempat meminta polisi untuk ke sekolah guna menjemput terduga pelaku di SDN Jenggolo.

Edi Subandi menyatakan, anaknya masih trauma dan tidak bersedia sekolah lagi di SDN Jenggolo. Sebab para terduga pelaku masih berada di sekolah sehingga membuatnya ketakutan kembali bersekolah, ketika nanti dirinya sembuh.

"Anaknya juga trauma ya mungkin yang jelas pindah sekolah, enggak mau anakhya sekolah lagi di situ," ucap Edi Subandi ditemui di RSI Gondanglegi, Kabupaten Malang, pada Kamis pagi (24/11/2022).

Awalnya memang sang anak tidak pernah menceritakan tindakan yang dialaminya. Sebab sang anak merasa malu jika harus mengadu ke orangtua terus menerus, namun berbeda dengan saat ini yang memaksanya untuk mengadu ke orang tua pada Sabtu 19 November 2022.

"Pengakuan dari dia selama itu enggak pernah bilang setelah sadar dari koma, hari Jumat jam setengah 11 malam dia sadar paginya dia sudah mentok (jalan buntu) sudah kalau orang Jawa bilang pegelnya udah mentok," tegasnya.

"Jadi pagi itu yang dia ingat diceritakan yang dia ingat diceritakan, siang sore sampai malam cerita itu-itu terus. Kapan sih ma, enek pak polisi ayo besok ke sekolahan, jenenge aku enggak eruh, areke eruh mlebu kelas siji-siji. Tak duduhi arek-areke, (kapan bu, ada pak polisi ayo besok ke sekolah, namanya saya nggak tahu, anaknya tahu masuk kelas satu-satu, saya tunjukkan anak-anaknya)," tuturnya.

Hal itulah yang membuat Edi dan keluarganya menegaskan proses hukum tetap akan berjalan kendati keluarga terduga pelaku meminta untuk damai. Sebab apa yang dialami anaknya dianggap sudah fatal dan mengancam nyawa seseorang.

"Prosesnya tetap dilanjutkan sesuai hukum yang berlaku adil, biar jera enggak ada timbul masalah yang lainnya ini korban paling fatal sebelumnya banyak korban, tapi enggak ada yang berani bilang pihak sekolah enggak ada yang berani," tuturnya.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Apalagi dari cerita anaknya terduga pelaku itu sudah sering melakukan tindakan pemalakan mulai anaknya kelas I, jika tidak menyetorkan uang konsekuensinya menerima kekerasan jika tak diberi uang.

"Itu mulai dari kelas 1, jadi pemalakan intinya, uang sakunya kan Rp6 ribu, yang Rp5 ribu diminta, kalau enggak setor dihajar sama kakak kelas 6, Brian ini masih kelas 2, jauh enggak imbang, kalau dia one by one satu lawan satu dia berani kendel (berani) dia, anaknya berani kalau sudah keroyokan enggak berani dia," paparnya.

Tak heran bila pria berusia 39 tahun ini meminta untuk kepolisian menghukum para pelaku agar mereka jera. Selain itu, ia pun meminta pihak sekolah agar mengeluarkan mereka agar siswa-siswa lain tak lagi takut berada di sekolah.

"Nggak ada yang berani sekolah di situ, satu dikeluarkan dulu biar jera, saya juga kasihan sekolahnya takutnya nggak ada yang berani sekolah di situ, terkenal anak-anaknya nakal-nakal," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini