Share

Gua Bawah Tanah Terhubung dengan Kehidupan Suku Maya pada 700-900 SM

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 01 Desember 2022 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 30 18 2717831 gua-bawah-tanah-terhubung-dengan-kehidupan-suku-maya-pada-700-900-sm-axkeDCNvZ6.jpg Gua yang bagi suku Maya menjadi pintu masuk suci ke Xibalba. (BBC)

DIGua ATM di Belize, detail tentang pengorbanan yang dilakukan oleh suku Maya kuno menjadi sorotan setelah sebuah penelitian baru menunjukkan gambaran tentang bagaimana ritual digunakan untuk menghidupkan kembali kisah penciptaan versi peradaban Maya.

Dalam cahaya merah yang berpendar dari senter kepala, kita bisa melihat keramik retak tergeletak di lantai dari tanah liat di dalam gua yang lembab.

Pemandu kami menyorotkan cahaya berwarna putih melintasi stalaktit dan stalagmit, menerangi pecahan batu metates – alat yang digunakan suku Maya untuk menggiling jagung – dan pot gerabah besar.

Kemudian sinar itu menangkap kemilau tengkorak manusia yang setengah terkubur di tanah liat; gigi depannya retak, dan tulangnya sudah lama mengkristal menjadi kalsit.

Ini adalah Kamar Utama Actun Tunichil Muknal (Gua ATM) di hutan Belize bagian barat, dan bagi suku Maya, gua yang menakutkan dan mempesona ini adalah pintu masuk yang suci ke Xibalba, dunia bawah Maya.

Selama lebih dari 1.000 tahun, sistem Gua ATM bawah tanah yang membentang sepanjang 5 ribu tidak pernah dijarah dan tidak terganggu.

Penduduk setempat baru menemukan kembali pintu masuk gua itu pada tahun 1986, dan, tak lama setelah itu, ahli hidrologi dan spelunker Thomas Miller menemukan kerangka di dalamnya.

Dalam beberapa dekade berikutnya, Gua ATM yang masih perawan menjadi subjek banyak penelitian, menawarkan kepada para ilmuwan dan pelancong pemberani sekilas tentang agama dan masyarakat Maya yang hidupi sekitar 700-900 SM.

Ritual misterius

Dari penelitian di situs ini dan situs lain di Belize, para arkeolog mengetahui bahwa bangsa Maya berkelana jauh ke dalam gua untuk berhubungan dengan dewa-dewa mereka dalam beberapa cara, tetapi kekhususan upacara dan ritual tersebut – dan alasannya – tetap diselimuti misteri.

Kemudian pada tahun 2021, dua arkeolog utama yang terlibat dalam penggalian Gua ATM sejak tahun 1990-an memperkenalkan metodologi baru untuk mengungkap misteri tersebut.

Dalam makalah mereka – Sacrifice of the Maize God: Re-creating Creation in the Main Chamber of Actun Tunichil Muknal (sebuah bab dari buku penelitian antologi The Myths of the Popol Vuh in Cosmology, Art, and Ritual) – Profesor Holley Moyes dari Universitas California dan Arkeolog dari Belize Dr Jaime J Awe menjelaskan bagaimana mereka dapat membangun gambaran rumit dari upacara keagamaan dengan mempelajari tata ruang kerangka dan artefak yang ditinggalkan.

Mereka bisa mengetahui di mana komunitas Maya berdiri saat upacara berlangsung, cerita mitos mana yang mereka ulangi, dewa mana yang ditiru suku Maya dalam ritual dan bagaimana orang yang tidak beruntung dikorbankan.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Hingga kini belum ada ada laporan langsung tentang apa yang terjadi dalam upacara gua Maya, tetapi teori baru menghidupkan upacara keagamaan mereka yang sampai sekarang belum dipahami.

Moyes dan Awe berpendapat bahwa suku Maya melakukan reka ulang yang rumit, teatrikal dan mematikan dari Popol Vuh, mitos penciptaan Maya – dan bahwa mereka melakukannya sebagai cara untuk mendorong dewa-dewa mereka untuk memaksa "kelahiran kembali" dunia di periode tepat sebelum kekeringan dan gejolak politik mengakhiri peradaban mereka, yang dikenal sebagai Keruntuhan Maya, pada abad ke-10.

"Ini mungkin salah satu gua arkeologi terpenting di dunia, dalam hal tingkat pelestarian dan nilai arkeologisnya. Terutama karena tidak dijarah," kata Moyes.

"Dan itu adalah gua yang penuh petualangan; untuk sampai di sana Anda harus melewati hutan, Anda melewati air dan Anda bisa mengalami jalan yang ditempuh suku Maya untuk pergi ke sana."

1.500 fragmen dan 21 kerangka manusia

Pintu masuk setinggi 8 meter ke Gua ATM tersembunyi di balik tanaman merambat yang kusut dan dedaunan lebat jauh di dalam Cagar Alam Gunung Tapir.

Jalan setapak berjarak satu jam berkendara dari San Ignacio, kota yang dekat dengan perbatasan Guatemala.

Dari sini, berjalan kaki selama 45 menit melalui hutan, dan melewati serangkaian penyeberangan sungai setinggi pinggang ke pintu masuk.

Di sini, jalan berakhir, dan satu-satunya cara masuk ke Gua ATM adalah dengan berenang.

"Suku Maya akan melakukan perjalanan ini dengan obor yang menyala", kata Hector Bol, seorang pemandu dari komunitas Maya setempat, yang telah memimpin tur ke Gua ATM selama 18 tahun.

Kelompok kecil kami yang terdiri dari lima turis menyalakan senter kepala kami dan meninggalkan cahaya siang hari saat kami mengikutinya, mengarungi sungai dan mengukir jalan setapak melalui batu kapur.

Gua menjadi bagian dalam kehidupan suku Maya.

“Suku Maya mulai menggunakan gua sekitar 1200 SM, ketika mereka mulai berpindah ke Belize,” Moyes berkata pada saya.

Perempuan itu menjelaskan bahwa gua-gua ini, bagi suku maya, adalah lapisan terbawah dalam tingkatan kosmologi mereka.

Sementara manusia berada di permukaan dan dewa-dewa berada di langit.

Ketika kami sampai di Kamar Utama, Bol memerintahkan kami untuk melepaskan sepatu kami.

“Anda selalu kehilangan sol sepatu di dunia bawah tanah Maya,” katanya, sambil bergurau.

Mengenakan obornya sebagai penunjuk, dia menyoroti pot tanah liat yang diseimbangkan di tepian dan batu giling berat tergeletak di kolam berkapur di lantai.

Ketika cahayanya menangkap garis besar tengkorak yang mengkristal itu, kami semua terdiam dalam keheningan.

Hampir 1.500 objek dan fragmen telah dicatat sejauh ini, dan 21 kerangka manusia.

Dalam mitos penciptaan Popol Vuh, dua sosok seperti dewa yang dikenal sebagai Pahlawan Kembar melakukan perjalanan ke dunia bawah untuk menenangkan Penguasa Xibalba dan menantang mereka bermain bola.

Si kembar kalah dan segera dikorbankan.

Kemudian, keturunan mereka yang juga disebut Pahlawan Kembar kemudian membalaskan dendam ayah mereka (salah satu Pahlawan Kembar asli), dan akhirnya menang.

Ayah mereka yang membalas dendam terlahir kembali sebagai Dewa Maize, yang darinya semua kehidupan manusia kemudian diciptakan.

Pahlawan Kembar lantas menghukum Dewa Xibalba, yang sejak saat itu hanya dapat menerima persembahan yang rusak.

Bukti di dalam Gua ATM menunjukkan bahwa mitos inilah yang dilakukan kembali oleh Maya dalam upaya putus asa untuk melawan Penguasa Xibalba, seperti yang dilakukan oleh Pahlawan Kembar.

"Suku Maya pasti percaya bahwa penguasa jahat Xibalba menang dalam beberapa cara selama kekeringan," kata Moyes, merujuk pada bencana alam yang diyakini para ahli berkontribusi pada kejatuhan peradaban Maya.

"Penguasa Xibalba tidak diperbolehkan memiliki barang-barang bagus, dan hampir semua yang kami temukan di gua ATM rusak, yang membuat saya berpikir bahwa ini pasti persembahan untuk dewa dunia bawah."

Moyes juga menjelaskan bagaimana semua artefak di Gua ATM telah diberi penanggalan tepat sebelum Maya Runtuh.

"Kami memiliki penanggalan radiokarbon yang sangat ketat. Kami tahu ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat," katanya.

"Semua keramik di gua itu berumur antara 700-900 [M]. [Suku Maya] berada dalam kondisi kekeringan parah sekitar tahun 820[M].

“Menjelang 850[M], daerah itu tidak berpenghuni, jadi mereka masuk ke gua di puncak kekeringan, tepat sebelum ditinggalkan."

Ketika tur kami sampai di pusat Kamar Utama, Bol menyoroti Perapian Tiga Batu kecil, yang dibuat oleh Maya dari tiga speleothem (endapan mineral yang ditemukan di gua-gua) sebagai referensi yang jelas untuk perapian tiga batu di Popol Vuh, tempat Dewa Maize dilahirkan kembali setelah dikorbankan.

"Ada sejumlah artefak, serta sisa-sisa manusia, berkerumun di area pusat seluas 5 meter x 5 meter di Kamar Utama yang mengelilingi tiga speleothem bertumpuk yang menunjukkan pemeragaan literal dari cerita Popol Vuh," tulis Moyes dan Awe dalam makalah penelitian mereka.

Saya melihat satu set kerangka manusia di kolam di sebelah perapian.

Moyes dan Awe menyebut kerangka yang dipenggal ini sebagai "Peniru Dewa" dalam makalah mereka dan berteori bahwa, "Lokasi pusat [kerangka] yang berdekatan dengan fitur Perapian Tiga Batu menunjukkan bahwa pengorbanan itu dimaksudkan untuk memanggil Dewa Maize dan perjalanannya melalui dunia bawah yang berair."

Beberapa meter jauhnya, dua korban lagi menemui ajalnya.

Berdasarkan posisinya, Moyes dan Awe percaya bahwa keduanya pasti memainkan peran sebagai dua Pahlawan Kembar pertama.

Berdiri di tengah kamar itu, saya bisa membayangkan drama yang mematikan itu terjadi.

Bagaimanapun, Moyes memperjelas bahwa Maya tak selalu memeragakan ritual semacam ini.

“Di antara suku Maya,” katanya, “kita jarang melihat-bahkan tidak sama sekali- pengorbanan manusia hingga periode klasik terakhir [sekitar 8 hingga 9 M].

“Dan saya pikir mereka mulai melakukannya karena mereka mengalami kekeringan, dan mereka mencoba untuk bertaruh.”

Faktanya, Moyes meyakini bahwa dunia Maya sejajar dengan dunia kita.

"Kisah tentang apa yang terjadi pada orang Maya adalah kisah nyata manusia," katanya.

"Ini adalah cerita yang mengartikulasikan apa yang kita lihat sekarang dengan perubahan iklim. Bagaimanapun, Maya hanya berdoa untuk hujan.

“Di sini, di California, kami melakukan hal yang sama. Kami memiliki tanda di jalan raya yang secara harfiah mengatakan 'Berdoa untuk Hujan'."

Setelah menapaki jejak kaki Maya yang angker dengan lembut, kami mengambil sepatu kami dan mengikuti Bol kembali melalui dunia bawah, dan keluar menuju sinar matahari yang menyilaukan.

Saat Bol meraih tangan saya untuk membantu saya memanjat batu yang mengarah kembali ke jalan setapak di hutan, dia menggemakan sentimen yang sama: "Semangat agamalah yang membawa Maya ke gua-gua ini.”

“Tetapi ketika keadaan menjadi putus asa, dan sains mengecewakan kita, kita semua mulai berdoa."

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini