Share

3 Aturan Kontroversial di Jepang, Salah Satunya Berburu Paus

Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone · Jum'at 02 Desember 2022 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 01 18 2718530 3-aturan-kontroversial-di-jepang-salah-satunya-berburu-paus-kmxrquHLG9.jpg Ilustrasi (Foto : Minichi)

TERKENAL sebagai negara disiplin dan maju dalam dunia teknologi, Jepang memiliki aturan kontroversial yang menuai protes. Mulai dari perburuan paus hingga pembatasan donasi sperma. Berikut informasi selengkapnya.

1. Pemakaman Shinzo Abe Digelar Secara Kenegaraan

Eks Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe ditembak orang tak dikenal kala berpidato di Nara, 8 Juli 2022. Abe yang menderita luka tembak di bagian dada akhirnya meninggal dunia. Setelah itu, pemerintah memutuskan untuk memakamkan Abe dengan prosedur kenegaraan.

Namun, hal itu banyak menuai kritik dan protes. Melansir laman ABCNews, ribuan orang turun ke jalan menentang pemakaman itu. Sebab, mereka tahu bahwa pemakaman Abe dibiayai oleh negara. Bahkan, seorang pria nekat membakar dirinya sendiri karena memprotes pemakaman tersebut. Pelaku bakar diri diketahui berusia sudah berusia lanjut, yakni 70 tahun.

2. Perburuan Paus untuk Disantap

Jepang melegalkan perburuan ikan paus untuk tujuan komersial, terutama demi menjadi bahan santapan. Peraturan itu dilakukan pada masa kepemimpinan Shinzo Abe, atas izin Komisi Paus Internasional. Namun, paus yang diburu hanya dalam jumlah terbatas.

Tentu hal ini menyulut kontroversi, sebab banyak spesies paus yang terklasifikasi hampir punah. Laman Harvard International Review menyebut, sayangnya pertentangan ini belum banyak disuarakan oleh masyarakat internasional. Meskipun kontroversial, para pecinta daging paus di Jepang sangat menyambut baik aturan tersebut dan menyebut bahwa ini adalah harapan mereka sejak lama.

Follow Berita Okezone di Google News

3. Wanita Lajang Dilarang Terima Donasi Sperma

Selanjutnya, pemerintah Jepang juga melarang pasangan lesbian dan wanita lajang untuk menerima donasi sperma dan memiliki anak. Aturan ini dibuat agar melindungi hak anak untuk mengetahui siapa orangtua kandung mereka. Bagi pasangan suami istri, maka diperbolehkan untuk menerima donasi sperma.

Diketahui, Jepang tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis, sehingga melarang pasangan lesbian untuk menerima donasi sperma. Sementara itu, banyak pihak yang memprotes aturan ini. Mereka merasa bahwa hal tersebut sama dengan mengambil paksa hak reproduksi perempuan, baik itu pasangan lesbian maupun wanita lajang. Mereka juga merasa bahwa keinginan perempuan untuk melahirkan dan membesarkan anak turut terenggut.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini