Share

Legenda Baba Yaga, Penyihir Paling Jahat dan Menyeramkan dari Cerita Rakyat Rusia

Rahman Asmardika, Okezone · Minggu 04 Desember 2022 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 04 18 2720207 legenda-b-65279-aba-yaga-penyihir-paling-jahat-dan-menyeramkan-dari-cerita-rakyat-rusia-EST4mnyU0V.jpg Boneka Baba Yaga yang dijual di Rusia. (Foto: Getty Images)

BABA YAGA adalah penyihir perempuan tua yang tinggal di rumah berkaki ayam. Dia suka menyantap anak-anak, tapi juga menolong orang.

Dalam dongeng, perempuan pada usia tertentu biasanya punya satu dari dua peran: penyihir jahat atau ibu tiri yang jahat, dan kadang-kadang keduanya. Seorang tokoh kunci dalam cerita rakyat Slavia, Baba Yaga, jelas memenuhi persyaratan sebagai penyihir jahat.

BACA JUGA: OKEZONE STORY: Legenda Mengerikan Rose Hall dan Ratu Voodoo Annie Palmer

Dia tinggal di rumah yang bisa berpindah dengan cara berjalan dengan kaki ayam, dan kadang-kadang terbang berkeliling dengan lesung dan alu raksasa.

Dilandir dari BBC Indonesia, dia biasanya muncul sebagai perempuan tua atau nenek tua, dan dia dikenal karena kesukaannya yang khas penyihir: menyantap anak-anak.

Dia sebenarnya karakter yang jauh lebih kompleks daripada yang dikira banyak orang. Licik, pintar, penolong sekaligus pengganggu, dia memang bisa menjadi karakter paling feminis dalam cerita rakyat.

Baba Yaga begitu melekat dalam imajinasi sehingga antologi cerita pendek yang baru dirilis, “Into the Forest” (Black Spot Books), menampilkan 23 interpretasi karakter Baba Yaga, semuanya oleh penulis horor perempuan terkemuka.

BACA JUGA: Perempuan-Perempuan di Papua Nugini Dituduh Gunakan Sihir, Korban Dibakar hingga Disalib di Jalanan

Kisah-kisahnya menjangkau berabad-abad, dengan “Of Moonlight and Moss” karya Sara Tantlinger yang seperti membangkitkan salah satu kisah klasik Baba Yaga, “Vasilisa the Beautiful. Water Like Broken Glass” karya Carina Bissett menempatkan Baba Yaga pada latar belakang Perang Dunia Kedua. “Stork Bites” oleh EV Knight meningkatkan aspek mengerikan mitos itu sebagai kisah yang bermanfaat bagi anak-anak yang ingin tahu.

Sejarah Baba Yaga 

Baba Yaga muncul dalam banyak cerita rakyat Slavia dan terutama Rusia.

Penyebutan paling awal tentangnya dalam tulisan berasal dari 1755, sebagai bagian dari pembicaraan tentang tokoh rakyat Slavia dalam buku Tata Bahasa Rusia karya Mikhail V Lomonosov.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Sebelumnya, dia muncul dalam seni ukiran kayu setidaknya dari abad ke-17, dan kemudian muncul secara teratur dalam buku-buku dongeng dan cerita rakyat Rusia.

Penggemar film mungkin mengenali namanya dari film John Wick yang dibintangi Keanu Reeves, di mana sang pembunuh bayaran dijuluki Baba Yaga oleh musuh-musuhnya, memberinya daya pikat misterius yang nyaris mistis.

Legenda animasi Jepang Hayao Miyazaki menggunakan Baba Yaga sebagai inspirasi karakter pemilik pemandian dalam film pemenang penghargaan tahun 2001, "Spirited Away".

Baba Yaga juga muncul dalam musik; Modest Mussorgsky tahun 1874 menampilkan komposisi kesembilan yang disebut The Hut on Fowl's Legs (Baba Yaga). Ia juga barangkali akan segera muncul di layar televisi; Neil Gaiman menggunakannya dalam komik Sandman untuk DC, yang adaptasinya ditayangkan di Netflix.

Gaiman juga menggunakan Baba Yaga dalam serial komik “The Books of Magic”, dan cara dia menggambarkan karakter tersebut menyoroti ambiguitas moralnya: meskipun tampil sebagai penolong dalam “Sandman”, dia menjadi penjahat dalam “Books of Magic”.

Dia mengatakan kepada BBC Culture bahwa dia pertama kali bertemu Baba Yaga saat berusia enam atau tujuh tahun ketika membaca buku fantasi anak-anak “The Dragon's Sister and Timothy Travels” karya penulis Inggris Margaret Storey.

"(Saya) merasa dia adalah yang paling menarik dari semua penyihir, dan semakin merasa seperti itu ketika saya membaca dia di beberapa cerita Rusia," katanya. "Baba Yaga tampaknya memiliki kehidupannya sendiri di luar cerita, yang hanya dilakukan oleh sedikit karakter dongeng."

“Into the Forest” diedit oleh Lindy Ryan, seorang penulis dan profesor ilmu data dan analitik visual di Rutgers University, New Jersey yang juga pendiri Black Spot Books, penerbit Into the Forest, sebuah pers kecil yang didedikasikan untuk penulis horor perempuan.

Bagaimana Baba Yaga memikat Amerika 

"Ibu tiri saya dari Rusia pindah ke Amerika Serikat tak lama setelah jatuhnya Uni Soviet," kata Ryan, sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.

"Bersama saudara tiri dan babushka tiri saya, dia membawa borscht, boneka matryoshka, dan Baba Yaga.

"Sementara kebanyakan gadis seusia saya tumbuh dengan kisah putri-putri versi Disney, saya lebih suka cerita-cerita oleh Brothers Grimm, Charles Perrault, dan Hans Christian Andersen – dan, tentu saja, buku-buku dongeng dan cerita rakyat Slavia yang berbicara tentang Baba Yaga."

Sebenarnya, asal-usul Baba Yaga mungkin lebih jauh dari abad ke-17. Ada aliran pemikiran ilmiah yang mengatakan bahwa dia adalah analog dewa Yunani Persephone, dewi musim semi dan alam, dalam budaya Slavia. Dia memang dihubungkan dengan pepohonan, hutan, dan keliaran alam.

"Esensi Baba Yaga ada dalam banyak budaya dan banyak cerita, dan melambangkan sifat roh perempuan yang tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dijinakkan, Ibu Pertiwi, dan hubungan perempuan dengan alam liar," kata Ryan.

Apa yang membuat Baba Yaga berada di atas penyihir cerita rakyat biasa adalah dualitasnya. Kadang-kadang dia menjadi pahlawan perempuan, kadang-kadang sebagai penjahat, dan unsur kebangkitan keperempuanannya yang kaya dan bersahaja.

"Baba Yaga tetap menjadi salah satu perempuan dalam cerita rakyat yang paling ambigu, licik, dan pintar," kata Ryan.

"(Dia) menimbulkan rasa takut dan rasa hormat, dan sekaligus kekaguman dan keinginan. Saya mengagumi kebebasan dan kemandiriannya, bahkan kekejamannya. Di dunia di mana perempuan begitu sering direduksi menjadi tokoh yang tidak penting, dia adalah sosok yang mengingatkan kita bahwa kita tegas dan tidak dapat dijinakkan, dan bahwa kebebasan seperti itu sering kali harus dibayar mahal."

Faktanya, dia adalah ikon proto-feminis. "Benar sekali," kata Yi Izzy Yu, salah satu penulis yang menyumbangkan cerita ke Into the Forest.

Salah satu penyebab dia mendapatkan deskripsi seperti itu adalah karena dia benar-benar membalikkan stereotip perempuan sebagai ibu yang mengasuh, dengan justru memakan anak-anak.

"Dia kuat meskipun tidak menarik dalam pengertian konvensional. Dia hidup dengan aturan magisnya sendiri daripada aturan duniawi," kata Izzy.

"Dan dia menantang kategori konseptual di setiap kesempatan. Bahkan rumahnya adalah rumah dan ayam, membuatnya, ya, tinggal di rumah dalam arti tertentu, tetapi tidak 'terikat'. Dalam [cara] ini, saya kira, dia adalah seorang gipsi dengan rumah bermotor."

Penjahat sejati

Izzy menyamakan Baba Yaga dengan karakter penipu dari banyak mitologi, seperti dewa kenakalan dalam mitologi Nordik Loki atau Coyote dari folklor penduduk asli Amerika. 

"Baba Yaga sering berperan sebagai penjahat, tapi dia juga cenderung menawarkan bantuan. Misalnya, di Vasilisa si Cantik, dia membantu membebaskan Vasilisa dari cengkeraman keluarga tirinya yang jahat," katanya.

"Baba berbahaya untuk dihadapi, seperti banyak dari mereka yang beroperasi di sisi gelap hukum dalam film-film kontemporer, tapi dia juga dapat membuktikan bahwa dirinya sangat berharga dalam keadaan berbahaya.

"Dengan cara ini, Baba Yaga memperumit peran mengasuh perempuan yang biasanya pasif dengan 'Aku akan melakukan apapun yang aku inginkan'. Ini adalah sikap mereka yang tidak tunduk pada hukum yang biasanya laki-laki.

Anda bisa mengatakan bahwa Baba Yaga berperan sebagai penyihir jahat tapi juga mengambil peran ibu peri baik hati. Pada akhirnya, dia menciptakan peran yang jauh lebih tak terduga dan lebih kuat daripada keduanya."

Izzy lahir dan besar di Cina Utara. Karena banyak sastra Rusia diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, Baba Yaga melintasi perbatasan dan masuk ke dalam jiwa orang Cina.

"Paparan pertama saya dengan Baba Yaga adalah kartun Cina yang saya lihat ketika saya masih sangat muda. Saya ingat kartun ini karena saya memberi tahu nenek saya bahwa Baba Yaga persis seperti Paman Besar saya. Ini membuatnya tertawa. Paman Besar tidak tertawa," kata Izzy.

Kiasan gunung atau hutan tua atau penyihir populer di seluruh Asia Timur, terutama karena, kata Izzy, "pegunungan diasosiasikan dengan kekuatan spiritual yang besar dan dengan tokoh pertapa yang memutuskan untuk menjalani hidup dengan cara mereka sendiri - seperti bagaimana Baba Yaga adalah perempuannya sendiri".

Dia menambahkan bahwa di Jepang ada karakter bernama Yamamba yang "sangat mirip dengan Baba Yaga, sering digambarkan memiliki ciri fisik yang menjijikkan dan suka makan anak-anak. Dia juga ambigu secara moral, bergantian digambarkan sebagai kanibal monster atau agen perubahan dan transformasi, dan penjaga para pahlawan".

Bagi Lindy Ryan, konsep antologi horor yang berpusat pada perempuan datang sebelum ide buku bertema Baba Yaga… tetapi penyihir hutan yang hebat ini memberikan pengaruhnya.

"Saya ingin antologi ini menampilkan suara perempuan di seluruh dunia yang tidak takut menceritakan kisah mereka, memanfaatkan keliaran dan kejahatan mereka sendiri, dan dengan cara itu saya merasa seperti Baba Yaga datang kepada saya sebagai inspirasi untuk antologi," dia menjelaskan.

"Yang mungkin paling mengejutkan adalah kesiapan para kontributor untuk mengerjakan tugas tersebut, dan resonansi yang dibawa Baba ke seluruh dunia. Dia benar-benar karakter universal, dan saya kagum dengan tanggapan dari perempuan di seluruh dunia yang menyatukan suara mereka dengan miliknya."

Kontribusi Izzy, The Story of a House, mengeksplorasi salah satu aspek unik dari mitos Baba Yaga, yaitu pondok bobroknya yang berjalan di atas kaki ayam. Dia menceritakan kembali penciptaan dan konstruksinya.

"Saya hanya terpesona memikirkan kaki ayam kecil dari rumah tua yang besar ini. Hal ini secara langsung membuat saya ingin menulis sesuatu tentang rumah tersebut.

Selain itu, saya baru saja menerjemahkan The Shadow Book of Ji Yun – kumpulan buku cerita aneh China abad ke-18. Penuh dengan roh rubah, sihir hitam Topi-Merah Tibet, dan rasa perdukunan lainnya, serta cerita tentang hewan yang cerdas atau diberdayakan dan metamorfosis aneh.

Ini mengilhami suasana yang ingin saya ciptakan dalam The Story of a House dan tema-temanya."

Apakah legenda Baba Yaga punya pelajaran untuk kita hari ini? Izzy berpikir demikian.

"Dia dukun penipu, pelanggar batas, (pengingat) bahwa kebebasan terletak sedikit di luar batas norma sosial, dan bahwa kita dapat belajar banyak dari kegelapan, seperti juga dari cahaya. Pada akhirnya, saya pikir dia mengajar logika non-biner. Dia mengingatkan kita bahwa kita adalah pahlawan sekaligus penjahat, bahwa seekor ayam juga bisa menjadi rumah, dan bahwa kita dapat merangkul keinginan tubuh dan rahasia roh."

Ryan setuju, dan memberi peringatan bagi mereka yang mengabaikan kekuatan Baba Yaga, dan dengan demikian, meremehkan perempuan di mana pun.

"Saya pikir sebaiknya kita mengingat bahwa Baba Yaga mungkin bersembunyi di hutan, tetapi dia menyaksikan dan mengingat," katanya.

1
7

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini