Share

Ikuti Rasmus Paludan, Tokoh Pembenci Islam Belanda Robek dan Injak-Injak Alquran

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 24 Januari 2023 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 24 18 2751874 ikuti-rasmus-paludan-politikus-pembenci-islam-belanda-robek-dan-injak-injak-alquran-wKCElixinQ.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

DEN HAAG– Ketua kelompok anti-Islam Pegida Edwin Wagensveld, merobek sebuah salinan Alquran di depan gedung DPR Belanda di Den Haag pada Minggu, (23/1/2023). Aksi Wagensveld ini mengikuti pembakaran Alquran oleh n politikus Denmark di luar Kedutaan Turki di Swedia sehari sebelumnya, yang membuat marah negara-negara mayoritas Muslim.

Wagensveld, yang telah ditangkap karena demonstrasi serupa di masa lalu, kali ini tidak ditahan karena bekerja sama dan mengikuti instruksi polisi untuk tidak membakar Alquran, seperti yang dia rencanakan. Alih-alih, dia merobek salinan Alquran pertama dan menginjak-injak salinan Alquran kedua.

Pihak berwenang mengkonfirmasi kepada outlet berita lokal Regio15 bahwa tokoh sayap kanan itu dibiarkan sendiri karena dia telah mematuhi perjanjian yang sudah ada sebelumnya dengan kota Den Haag. 

Upaya Wagensveld sebelumnya untuk memprotes "Islamisasi" Eropa di Den Haag dibatalkan sebelum dimulai, setelah polisi bergerak untuk menangkapnya guna mencegah rencana pembakaran Alquran. Dia juga ditangkap di Rotterdam karena "menghina agama" setelah dia terdengar menghina Nabi Muhammad dan Islam menggunakan megafon, meskipun dia tidak dituntut setelah ditetapkan dia tidak melakukan kejahatan, demikian diwartakan RT.

Follow Berita Okezone di Google News

Pekan lalu, politisi sayap kanan Denmark Rasmus Paludan membakar Alquran di depan kedutaan Turki di Swedia, menyampaikan monolog anti-Islam dengan izin dan perlindungan polisi. Sementara pihak berwenang Swedia mengutip dukungan konstitusi negara untuk kebebasan berekspresi untuk membenarkan mengizinkan tindakan provokatif pemimpin partai Stram Kurs (Garis Keras), aksi tersebut membuat marah Turki.

Media Turki melaporkan bahwa Kementerian Luar Negerinya telah memanggil duta besar Swedia untuk memperingatkannya agar tidak membiarkan apa yang disebutnya “kejahatan karena kebencian” terus berlanjut, dengan mengatakan bahwa dia tidak mau menerima “hak demokrasi” sebagai pembenaran untuk “penghinaan terhadap nilai-nilai sakral. ” Sebuah bendera Swedia dibakar di luar kedutaan negara di Ankara sebagai pembalasan.

Aksi Paludan mungkin telah membahayakan peluang Swedia untuk menjadi anggota NATO, yang memerlukan persetujuan Turki. Ankara selama berbulan-bulan mendesak Swedia untuk mengambil pendekatan yang lebih keras terhadap kelompok dan individu yang dianggapnya sebagai teroris dan “propaganda” mereka.

Pemerintah Turki juga marah atas protes baru-baru ini di mana kelompok pro-Kurdi di Swedia membakar patung Presiden Recep Tayyip Erdogan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini