“Untuk mengatasi perpecahan Arab-Persia dan perpecahan Sunni-Syiah, Iran mengambil posisi yang jauh lebih agresif dalam masalah Palestina dengan menunjukkan kredibilitas kepemimpinannya di dunia Islam dan menempatkan rezim-rezim Arab yang bersekutu dengan Amerika Serikat dalam posisi defensif,” kata Trita Parsi, wakil presiden eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, dikutip Al Jazeera.
Selama beberapa dekade, permusuhan ini meningkat karena kedua belah pihak berusaha untuk meningkatkan kekuatan dan kekuasaan mereka di wilayah Palestina. Selain itu, jaringan “poros perlawanan” mendapat dukungan dari Iran yang dimana jaringan ini terdiri dari kelompok-kelompok politik dan bersenjata di beberapa negara, termasuk Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Negara-negara tersebut juga mendukung perjuangan Palestina dan menganggap Israel sebagai musuh besar.
(Rachel Eirene Nugroho)
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.