GAZA – Pemimpin Hamas Yahya Sinwar terbunuh dalam serangan di Jalur Gaza selatan pada Rabu, (16/10/2024), menurut klaim militer Israel. Tentara pendudukan mengatakan pada Kamis, (17/10/2024) bahwa jasad pria berusia 61 tahun itu telah diidentifikasi melalui catatan sidik jari dan gigi yang didapat saat dia mendekam di penjara Israel, namun sejauh ini Hamas belum memberikan komentarnya.
Jika terkonfirmasi, kematian Sinwar menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan perang di Gaza, terutama terkait siapa yang akan menggantikannya sebagai pemimpin Hamas. Sinwar sendiri dipilih sebagai pemimpin Hamas setelah pendahulunya, Ismail Haniyeh dibunuh Israel dalam serangan di Teheran, Iran.
Sinwar dipandang sebagai tokoh yang tak kenal kompromi dan keras dalam menghadapi pendudukan Israel di Gaza dan Palestina. Sikap ini juga ditunjukkannya dalam upaya menengahi gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera antara Israel dengan Hamas.
Kematian Sinwar, jika terbukti, memunculkan potensi baru dalam pembicaraaan terkait kedua isu tersebut. Namun, itu bergantung pada siapa yang akan dipilih Hamas untuk menggantikan Sinwar.
Berikut beberapa tokoh Hamas yang menjadi kandidat utama untuk menjadi pengganti Sinwar, sebagaimana dilansir The Hill:
Mahmoud al-Zahar adalah pendiri dan anggota senior Hamas, yang dianggap “hawkish” dan “konservatif secara sosial” bahkan menurut standar kelompok militan tersebut, menurut Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa.
Ia terpilih menjadi anggota Dewan Legislatif Palestina (PLC) pada 2006 dan ditunjuk sebagai menteri luar negeri pertama kelompok tersebut setelah kemenangan Hamas dalam pemilu di tahun yang sama. Dia dilaporkan selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan Israel pada 1992 dan 2003.
Reuters melaporkan bahwa dia tidak membuat pernyataan atau penampilan publik sejak 7 Oktober.
Al-Zahar sebelumnya bekerja sebagai dokter di Gaza dan mendirikan badan amal medis.
Saudara laki-laki Yahya, Mohammed Sinwar, juga menjadi salah satu calon pemimpin Hamas selanjutnya. Jika terpilih sebagai pemimpin Hamas, Mohammed Sinwar kemungkinan akan memiliki pendekatan yang sama dengan Yahya terkait perundingan gencatan senjata.
Pejabat Amerika Serikat (AS) menyebut Mohammed sebagai “orang yang sama” dengan Yahya, dan negosiasi gencatan senjata akan “gagal total” jika dia terpilih.