Alih-alih mengatasi masalah tersebut, negara justru menghasilkan buku propaganda dan slogan tentang “kebahagiaan keluarga.” Lebih mudah menerbitkan buku yang dipoles tentang kunjungan Xi daripada mereformasi sistem sosial yang membuat menjadi orang tua terasa tidak terjangkau dan tidak menarik.
Buku tersebut juga mencerminkan tren ideologis yang lebih luas: penegasan kembali peran gender tradisional bagi perempuan. Dalam dekade terakhir, pesannya menekankan peran perempuan sebagai “istri yang baik dan ibu yang bijaksana,” mendorong pengutamaan “nilai-nilai keluarga,” serta menempatkan keputusan melahirkan anak di atas keberlanjutan karier. Organisasi seperti ACWF, yang sebelumnya lebih berfokus pada isu hak perempuan, kini semakin berperan sebagai saluran komunikasi kebijakan resmi negara.
Selama pemerintah tidak merespons tantangan struktural yang membuat pilihan berkeluarga sulit, serta tidak mengakui bahwa kebijakan satu anak yang kini ditinggalkan pernah menghasilkan konsekuensi jangka panjang yang berat, tren penurunan demografi di Tiongkok kemungkinan besar akan berlanjut—terlepas dari intensitas kampanye simbolik di sekitar figur pemimpin.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.