JAKARTA - Relawan kemanusiaan sekaligus Founder Yayasan Gerak Bareng, Ahmad Zaki Ali meninggal dunia saat berada di wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban meninggalnya saat menyalurkan bantuan gempa NTT.
Salah satu rekan almarhum sesama relawan kemanusiaan sekaligus Tim Hands Foundation, Muhammad Rafki Razif Kiransyah mengungkapkan kronologi meninggalnya Ahmad Zaki.
Rafki mengatakan bahwa dirinya sudah enam hari bersama dengan almarhum menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT.
Saat itu, Ahmad Zaki tidak mengeluhkan sakit saat menyalurkan bantuan meski intensitas penyaluran cukup tinggi selama lima hari. Bahkan mereka sempat bermalam di Masjid Raya Reo dan di wilayah Ruteng.
“Selama kurang lebih enam hari gitu kita sama-sama. Dari hari Senin, kita bareng-bareng ngeliat almarhum itu eh semangat. Terus sehat, gak ada keluhan sakit apa-apa terus juga gak keliatan kayak orang sakit gitu,” kata Rafki saat dihubungi iNews Media Group, Minggu (23/8/2026).
Dia menceritakan, bahwa sebelum meninggal, almarhum bersama dirinya akan mendistribusikan 30 paket bantuan ke Desa Satar Padut Kabupaten Manggarai Timur sekitar pukul 14.00, dimana ia bersama almarhum berada dalam satu mobil.
Kejadian tak terduga mulai terjadi saat dirinya bersama almarhum dan tim yang lain memutar arah dari lokasi oenyakurannyerkahir untuk melakukan asesmen kebutuhan para korban. Saat itu, Rafki menceritakan bahwa ia sempat mendengar almarhum Ahmad Zaki mengucapkan istigfar dan tidak sadarkan diri saat berada di dalam mobil.
“Nah, gak lama dari kita muter balik dari tempat penyaluran terakhir sekitar 5 meter, beliau sempat berhenti. Terus yang kedengeran sama kita di mobil itu beliau istighfar, ‘Astagfirullah’ terus berhenti dan mulai gak sadarkan diri. Nah di situ kita juga kaget, panik,” ungkap dia.
Almarhum pun langsung dilarikan ke posko medis menggunakan bantuan mobil dari warga. Sesampainya di posko medis, almarhum Ahmad Zaki langsung diberi penanganan. Namun, takdir berkata lain, Ahmad Zaki akhirnya tutup usia sekitar pukul 16.40.
“Alhamdulillah ada bantuan dari mobil warga di sana, bantu untuk mengantar ke posko kesehatan ke medis. Lalu sesampainya di medis, sama tim medis juga sudah dilakukan pengupayaan untuk menyadarkan kembali,’’ujarnya.
‘’Itu kalau tidak salah sudah dilakukan apa, CPR sebanyak tujuh kali siklus besar gitu untuk pompa jantungnya. Tapi Qodarullah almarhum tidak bisa diselamatkan gitu, memang sudah eh waktunya eh almarhum istirahat,” lanjut Rafki.
Namun, ia mengungkapkan bahwa tim medis juga sempat menemukan beberapa obat pribadi milik almarhum dimana salah satu obatnya disebut sebagai obat penyakit hipertensi.
“Dan sempat di cek juga di kantongnya itu ada obat-obat pribadi. Rafki kurang inget gitu detailnya obat apa aja, cuman yang kemarin disebut sama dokternya, ‘Oh ini ada obat hipertensi’ gitu,” tambah dia.
Kepergian almarhum Ahmad Zaki pun turut meninggalkan duka mendalam bagi rekan sesama relawan. Apalagi, almarhum tidak pernah mengeluh sakit dan nampak selalu sehat serta semangat saat menyalurkan bantuan. Bahkan Rafki sendiri mengaku sempat gemetar saat almarhum tak sadarkan diri.
‘’Karena di situ Rafki bener-bener panik, terus gemeter gitu di samping beliau banget dan gak bisa mikir apa-apa juga yang penting nyelamatin beliau sampai dengan posko medis aja. Karena bingung juga kondisi kita lagi penyaluran, lagi pendistribusian kayak gitu, eh tiba-tiba kejadian hal yang tidak diinginkan kayak gitu,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.