Share

Venezuela Tuduh AS Dibalik Demo Libya

Adinda Permatasari, Okezone · Jum'at 25 Februari 2011 16:31 WIB
https: img.okezone.com content 2011 02 25 414 428915 45raxpZYy3.jpg Presiden Venezuela Hugo Chavez (Foto: Reuters)

VENEZUELA – Menteri Luar Negeri Venezuela menggaungkan kembali tuduhan Fidel Castro bahwa Amerika Serikat (AS) dan sekutunya berada di belakang unjuk rasa di Libya untuk menguasai cadangan minyak di negara Afrika Utara tersebut.

 

Menteri Luar Negeri Venezuela Nicolas Maduro menyatakan, AS dan negara kuat lainnya sedang merencanakan pergerakan di dalam Libya yang bertujuan untuk menumbangkan kekuasaan Moammar Khadafi.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

 

Namun, Maduro tidak mengutuk atau membela kekerasan yang dilakukan Pemerintah Libya terhadap para pengunjuk rasa yang menentang Khadafi.

 

Maduro meminta solusi damai harus diutamakan atas kerusuhan yang terjadi di Libya dan mempertanyakan kebenaran berita tentang kericuhan di Libya yang dikabarkan oleh media yang menyudutkan kubu Khadafi di Tripoli.

 

"Mereka merekayasa situasi untuk melakukan invasi ke Libya,” ujar Maduro seperti dikutip dari CBS, Jumat (25/2/2011).

 

"Libya sedang mengalami saat sulit yang seharusnya tidak di pengaruhi oleh informasi menyesatkan dari kantor berita media barat,” Maduro menambahkan.

 

Khadafi sudah menjadi sekutu dekat Presiden Venezuela Hugo Chavez, dan lawan politik Chavez mengkritik pedas hubungan kedua negara tersebut.

 

Sebelumnya, pada Selasa (22/2/2011), Fidel Castro yang merupakan mentor Chavez, mengatakan, aksi protes di Libya merupakan dalih AS untuk melakukan invasi oleh North Atlantic Treaty Organization (NATO).

 

Castro dalam sebuah kolom di surat kabar nasional Kuba mengatakan, terlalu dini untuk mengkritik pemerintahan Khadafi. Tapi, ia bersikeras bahwa aksi protes tersebut adalah rencana invasi AS untuk mengambil alih cadangan minyal di Libya.

 

Venezuela dan Libya merupakan anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC).

 

Chavez, yang sudah menjalin hubungan dekat dengan Khadafi sejak memangku jabatan presiden sejak 1999, telah berulang kali menuduh Pemerintah AS berkonspirasi menjatuhkan pemerintahannya.

 

Presiden yang mengklaim dirinya sebagai seorang sosialis itu menyatakan AS ingin menguasai cadangan besar petrolium di Venezuela.

 

Namun, Pemerintah AS mengejek tuduhan bahwa AS berencana melawan Pemerintahan Venezuela.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini