Osama yang Lembut Berubah Jadi Radikal

Hermanto, Okezone · Senin 02 Mei 2011 12:23 WIB
https: img.okezone.com content 2011 05 02 414 452203 S8ANgtxHqo.jpg Osama Bin Laden (Foto: Reuters)

OSAMA bin Laden lahir di Arab Saudi pada tahun 1954. Dia menjadi anak yang paling taat di antara saudara-saudaranya yang lain. Obama memilih mengikuti militan Islam pada saat dia masih remaja di tahun 1970-an.

Osama ikut berjuang di Afghanistan mengusir invasi pasukan Uni Soviet pada 1980 dan mendapatkan reputasi sebagai komandan paling berani. Kekayaan yang dimiliki keluarganya pun sangat membantu meningkatkan performa dirinya di antara para pejuang mujahid.

Kemampuan Osama yang paling signifikan adalah menginspirasi generasi baru untuk melakukan teror pembunuhan mengatasnamakan dirinya.

Pada saat perang di Afghanistan pada tahun 1980-an, Osama dibantu oleh AS untuk melakukan "perang suci" terhadap kependudukan Soviet dengan memberikan bantuan uang dan senjata.

Ketika dia kembali ke Arab Saudi, dia dipuja dan banyak yang memberikan sumbangan. Dia pun diminta untuk menjadi pembicara di masjid dan rumah-rumah warga. Tapi tidak lama dari itu, dia kembali membelot dari sekutunya, dunia Barat.

"Ketika kita membeli barang dari Amerika, kita membantu membunuh warga Palestina," ujar Osama di sebuah kaset rekaman yang dibuatnya pada waktu itu.

Momentum yang paling mencolok pada kehidupan Osama adalah pada tahun 1990, saat itu pasukan AS mendarat di tanah Arab untuk mengenyahkan Irak dari Kuwait.

Osama mencoba memperingatkan pemerintah Arab agar tidak membiarkan pasukan non-Muslim berada di tanah kelahiran agama Islam, tapi pemimpin Arab Saudi malah berpaling kepada Amerika Serikat untuk melindungi cadangan minyaknya. Osama terus mengkritik kepemimpinan di Riyadh, kewarganegaraannya pun dicabut, demikian lansir Associated Press, Senin (2/5/2011).

"Saya melihat perubahan radikal dalam kepribadiannya. Dia berubah dari yang tadinya tenang, damai dan pria lembut yang selalu membantu muslim lainnya. Dia juga mampu memberikan perintah dan memimpin pasukan untuk membebaskan Kuwait. Tapi dia berubah menjadi arogan dan sombong," ujar Pangeran Turki yang pernah menjadi intelijen Arab Saudi pada saat wawancara pada akhir tahun 2001.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini