Share

Perjuangan Mantan Presiden PDRI yang Terlupakan

Rus Akbar, Okezone · Kamis 10 November 2011 16:11 WIB
https: img.okezone.com content 2011 11 10 340 527643 W55fNuTCzK.jpg Sjafruddin Prawiranegara (Foto: masyumicentre.com)

PADANG- Sjafruddin Prawiranegara merupakan sosok pemimpin yang pernah menyelamatkan Negara ini dalam kondisi darurat pada periode 1948-1949.

Tepatnya saat agresi Belanda kedua di Indonesia pada 19 Desember 1949. Pasalnya ketika itu, Indonesia dalam keadaan darurat karena Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dalam ancaman Belanda.

“Saat itu Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berbunyi, ‘Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi, Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogyakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra,” kata Fesizal Ridwan, Sekretaris Panitia Satu Abad Syafrudin Prawiranegara kepada okezone, Kamis (10/11/2011).

Maka pada 19 Desember itulah melalui Kepres 28 Tahun 2006 ditetapkan sebagai hari Bela Negara. Sejak itulah awal sejarah penetapan hari di mana Soekarno melalui mandatnya menyerahkan kepada Sjafruddin Prawiranegara sebagai Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berpusat di Bukittinggi.

Ferizal menceritakan, telegram itu memang tidak sampai ke Bukittinggi dikarenakan keterbatasan sistem komunikasi.

Namun rasa nasionalisme Sjafruddin tumbuh saat mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki Ibu kota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia.

“Pada 19 Desember sore hari, Sjafruddin Prawiranegara mengambil inisiatif mengadakan rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat. Dia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat dan Gubernur Sumatra Mr TM Hasan menyetujui usul itu, alasannya saat itu adalah pemerintahan kosong padahal untuk menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai Negara,” terang Ferizal.

Perjuangan panitia mengusung nama Sjafruddin Prawiranegara menjadi Pahlawan Nasional ini tidaklah sebentar. Mereka telah mengusulkan sejak Orde Baru, namun saat itu Presiden Soeharto tidak menanggapi serius usulan ini.

Akhirnya baru pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat almarhum Sjafruddin Prawiranegara sebagai pahlawan.

“Pengangkatan sebagai pahlawan ini sebagai bukti pengakuan dari pemerintah bahwa telah ada saat itu pemimpin darurat RI,” ulasnya.

Tentu mengusung Sjafruddin Prawiranegara ini tidak hanya sekadar mengusulkan, melainkan mengumpulkan bahan sejarah baik dari keluarga, kerabat, serta para pelaku sejarah yang pernah seperjuangan dengan beliau.

“Pelaku sejarah ini tersebar di kabupaten/kota di Sumatera Barat, saat Syafrudin menjadi ketua pemerintah darurat ini. Pemerintah selalu berpindah-pindah dari kabupaten ke kabupaten lainnya, ini tujuannya untuk menjaga posisi pemerintah,” paparnya.

Setelah begerilya, akhirnya Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya pada Presiden Soekarno pada 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Itulah berakhirnya pejalanan pemerintah darurat selama delapan bulan. Setelah menyerahkan mandatnya kembali kepada Presiden Soekarno, Sjafruddin Prawiranegara mendapat jabatan baru sebagai menjadi Menteri Keuangan pada Maret 1950.

“Keluarga dari Sjafruddin berada di Jakarta dan luar negeri, mereka sangat apresiasi sekali dengan diangkatnya Sjafruddin Prawiranegara sebagai pahlawan nasional, perjuangan mereka sejak Orde Baru menjadi kenyataannya,” pungkas Ferizal.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini