Kebangkitan Fasis dan Sikap Agresif Hitler

Aulia Akbar, Okezone · Kamis 10 Mei 2012 16:15 WIB
https: img.okezone.com content 2012 05 10 538 627424 emINzJNyHN.jpg Foto : Adolf Hitler

ANCAMAN-ancaman perang mulai bermunculan lagi pada 1930, bersamaan dengan peningkatan kekuatan Nazi di Jerman dan Jepang.

 

Munculnya Adolf Hitler sebagai Pimpinan Nazi Jerman menjadi pemicu peperangan di dunia ini. Pada Februari 1938, Hitler mengakhiri aliansi Jerman dengan China berputar haluan dan membangun persekutuan dengan Jepang. Bahkan Jepang melakukan agresi ke China. Akibatnya, Jerman langsung mengakui Manchukuo, wilayah China yang didukui oleh Jepang. Hitler memerintahkan untuk mengakhiri distribusi senjata ke China dan memulangkan seluruh pejabat militernya di China.

 

Hitler juga mengumumkan unifikasi Austria dengan Nazi Jerman di Anschluss pada Maret 1938, dan mulai memusatkan perhatiannya pada warga etnis Jerman di Distrik Sudeteland, Cekoslovakia. Meski demikian, ambisi Hitler yang sebenarnya adalah menguasai Cekoslovakia. Bahkan dirinya tidak menganggap isu masyarakat Jerman di Sudetenland merupakan hal yang penting.

 

Pada April 1938, Hitler merencanakan operasi Fall Grün, sebuah sandi operasi militer Jerman ke Cekoslovakia. Akibat dari adanya tekanan Inggris dan Prancis, Presiden Cekoslovakia Edvard Beneš memberikan otonomi khusus ke Sudeteland. Sementara itu, warga Sudeten tampak mengalami bentrokan dengan polisi Cekoslovakia untuk menuntut otonomi tersebut.

 

Jerman adalah negara yang bergantung dengan ekpor minyak Inggris. Hitler yakin, bila dirinya menabuh genderang perang terhadap Cekoslovakia, hal buruk akan muncul dan merugikan Jerman dalam ketersediaan energi. Hitler pun membatalkan operasi militer itu, dan menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain, Perdana Menteri Prancis Édouard Daladier, dan Perdana Menteri Italia Benito Mussolini di Munich. Pertemuan satu hari itu menghasilkan Perjanjian Munich yang memberikan Sudetenland ke tangan Jerman.

 

Chamberlain sangat puas dengan Perjanjian Munich, karena hasil yang dihasilkan adalah hasil yang damai. Meski demikian, Hitler tampak marah karena dirinya kehilangan kesempatan berperang. Hitler menilai, meski proses perdamaian yang dimediatori oleh Inggris itu membuahkan hasil yang baik bagi Jerman, namun itu bukti kekalahan Jerman yang hendak melakukan ekspansi dan membatasi kekuatan Inggris.  

 

Krisis ekonomi makin mennggeliat pada 1939. Hitler pun memotong anggaran militernya. Namun, tepat pada 15 Maret 1939, Hitler melanggar Perjanjian Munich. Hitler menyerbu Kota Praha, yang merupakan Ibu Kota Cekoslovakia. Dari Kastil Praha, Hitler mengklaim Bohemia dan Moravia serta menjadikan wilayah itu sebagai protektorat Jerman.

(AUL)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini