Share

Sidang Kasus Cebongan Dinilai seperti Dagelan

Prabowo, Okezone · Senin 29 Juli 2013 22:09 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 29 510 844359 yKdPkAdQpg.jpg Sidang kasus Cebongan

YOGYAKARTA - Perjalanan sidang di Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Yogyakarta mendapat sorotan. LSM yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Pemantau Peradilan Militer mengumumkan evaluasi publik atas kasus yang menyeret 12 prajurit Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Tri Wahyu dari Indonesian Court Monitoring, menyampaikan, hasil pemantauan sejumlah pertanyaan majelis hakim tidak substansial. Catatan lain, yakni adanya fakta mising link, pengamanan proses persidangan, penggunaan sebo, pelemparan krek, penyamaran sebagai anggota polisi hingga keterangan saksi yang berubah-ubah.

"Pertanyaan yang tidak substansial ini bisa jadi pembuktian kebenaran materiil tidak banyak tergali. Wajar jika muncul pertanyaan publik, apakah ini peradilan serius atau dagelan," kata Tri Wahyu, di Yogyakarta, Senin (29/7/2013).

Tri tak ingin berprasangka buruk atas catatan tang ditemukan dalam proses persidangan Serda Ucok Tigor Simbolan, dkk. Dia berharap proses hukum penyerangan ke Lapas Kelas IIB Sleman itu sesuai dengan prinsip hukum dan asas lembaga peradilan yang fair dan transparan.

"Kita lihat nanti, bagaimana isi tuntutan oditur militer dan putusan hakim. Semoga pikiran saya peradilan dagelan salah, peradilan ini serius menegakkan keadilan," bebernya.

Direktur LBH Yogyakarta, Samsudin Nurseha, menegaskan penegakan hukum harus mampu memberi efek jera pada pelaku pelanggaran hukum. Seha tak melihat adanya fakta baru dari sidang yang sudah digelar. Persidangan akan kembali digelar pada Rabu, 31 Juli 2013 dengan agenda pembacaan tuntutan.

"Selama persidangan berlangsung, saya pikir tidak banyak fakta-fakta baru, saya melihat hakim, oditur, maupun penasehat hukum kurang menggali keterangan saksi," kata Seha.

Jalannya persidangan tetap terpantau sejumlah organisasi independen. Sebagian besar organisasi itu berpendapat peristiwa penembakan empat tahanan di dalam lapas telah mengancam rasa aman yang dijamin undang-undang.

"Peristiwa Cebongan itu ancaman atas rasa aman. Bagaimana bisa, sudah ditahan, berada di rumah aman negara tapi diserang anggota dari institusi negara. Kasus ini jelas pencideraan terhadap hak-hak asasi manusia," kata Direktur Pusham UII, Eko Riyadi.

(tbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini