Share

BIN Jegal Prabowo Jadi Capres?

Fiddy Anggriawan , Okezone · Kamis 20 Maret 2014 21:00 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 20 567 958274 ZffgNvrYh2.jpg Prabowo Subianto (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemilu 2014 diprediksi menjadi masa akhir pertarungan elit sipil dan militer. Pasalnya, tokoh militer dianggap sulit untuk kembali mendapat simpati masyarakat.

"Anda suka enggak suka, Pemilu Presiden 2014, masa akhir dari pertarungan elit sipil dan militer dari generasi orde baru. Ada tiga partai di bawah jenderal berebut posisi tiga, yakni Demokrat, Gerindra dan Hanura," ungkap pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, dalam diskusi yang digelar Lembaga Populi Center, Jakarta, Kamis (20/3/2014).

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Dia mengatakan, banyak hal aneh yang dilakukan capres yang berasal dari militer. Misalkan, mantan Danjen Kopasus Prabowo Subianto selalu melakukan kampanye dengan menggunakan atribut TNI. Padahal, tidak akan mempengaruhi suara pemilih.

"Prabowo kampanye pakai topi berlambang tiga bintang, saya juga enggak ngerti apa dia lagi kampanye atau inspeksi pasukan? Ini pemilu bukan jor-joran jenderal, ngapain dia pakai topi bintang tiga segala," tegasnya.

Kemudian, peserta konvensi Partai Demokrat yang merupakan mantan KASAD Promono Edhie Wibowo. Ikrar menyatakan, Pramono ikut konvensi capres tapi tak percaya diri. "Kalau kita lewat Cibubur sampai Cikeas, ada gambar Pramono dengan tulisan anak Jenderal Sarwo Edhi Wibowo. Saya kritik kenapa enggak punya rasa percaya diri. Padahal bintang empat," paparnya.

Sementara, Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Thamrin Tomagola, menyatakan sangat berbahaya jika Prabowo jadi presiden. Oleh karenanya erlu dihadang. Bahkan, terdengar kabar ada upaya penghadangan Prabowo untuk jadi presiden dari Badan Intelejen Negara (BIN).

"Jangan sampai Prabowo jadi presiden dan yang menghadang bukan hanya kelas menengah yang pro demokrasi saja, tetapi BIN dan tentara sendiri sudah menghadang Prabowo," jelas Thamrin.

Menurutnya, kekuatan militer itu memiliki kelompok ekonomi politik yang berbeda-beda. Wajar jika ada upaya saling menghadang. "Militer itu tergantung pada sumber nafkah ekonomi. Jangan punya bayangan TNI bersatu dalam berpolitik. Banyak kelompok ekonomi politik di militer," tandas Thamrin.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini