Share

Tebu Hasil Penelitian Unej Masuk Jurnal Internasional

Margaret Puspitarini, Okezone · Sabtu 26 Juli 2014 17:16 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 26 373 1018553 2N0ZdzVQ4B.jpg Tebu Hasil Penelitian Unej Masuk Jurnal Internasional (Ilustrasi : Reuters)

JAKARTA - Menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebuah universitas, ketika hasil riset mereka mendapat pengakuan dari dunia internasional. Seperti yang dirasakan oleh Universitas Jember (Unej) ketika mendapat pengakuan dari jurnal internasional, Nature Biotechnology.

Pengakuan dari jurnal bergengsi di bidang bioteknologi ini, diberikan terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh Center for Development of Advanced Science and Technology (CDAST) Unej. Laporan yang berjudul Beating The Heat itu muncul dalam Jurnal Nature Biotechnology volume 32 nomor 7, Juli 2014.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Laporan tersebut membahas varitas tebu N11-4T, sebuah varietas tebu tahan kering Produk Rekayasa Genetika (PRG).  Dalam laporan yang ditulis oleh Emily Waltz, varietas tebu PRG N11-4T disebut sebagai salah satu dari sepuluh produk tanaman rekayasa genetika, yang saat ini sudah dikembangkan secara komersial di dunia.

Tebu PRG N11-4T memiliki keunggulan peningkatan produksi mencapai 20-30 persen dibandingkan tebu jenis lain saat ditanam di lahan kering. Keberhasilan ini menempatkan CDAST Unej sebagai pengembang varietas tebu PRG N11-4T, dan PTPN XI, serta Ajinomoto sebagai pihak yang memanfaatkan varietas tebu PRG N11-4T secara komersial, sejajar dengan pengembang produk rekayasa genetika kaliber dunia seperti Monsato, Du Pont Pioneer, Arcadia Biosciences dan lainnya.

“Pembahasan mengenai varietas tebu PRG N11-4T di Jurnal Nature Biotechnology ini membuktikan hasil kerja keras kami kini sudah diakui oleh dunia internasional. Bagi kami ini adalah hadiah ulang tahun Unej ke-50,” kata Ketua CDAST Unej Bambang Sugiharto, seperti dinukil dari situs Unej, Sabtu (26/7/2014).

Menurut jurnal yang berpusat di Inggris itu, penemuan di bidang produk rekayasa genetika, khususnya pada tanaman tahan kering, memberikan harapan bagi dunia. Pasalnya dengan bertambahnya populasi penduduk dunia berimplikasi pada permintaan pangan yang semakin meningkat.

Padahal, di tengah ancaman perubahan iklim dunia, masa kemarau dikhawatirkan dapat berlangsung lebih lama. Sehingga dikhawatirkan menganggu produksi pangan dunia.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini