Share

Kericuhan Kembali Pecah di Hong Kong

Andreas Gerry Tuwo, Okezone · Senin 29 September 2014 08:18 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 29 413 1045628 IJNhV6aW5A.jpg Kericuhan Kembali Pecah di Hong Kong (Foto:Reuters)

HONG KONG - Kondisi Hong Kong kembali mencekam. Pasalnya, kericuhan antara demonstran pro-demokrasi dan Polisi Hong Kong terus berlanjut.

 

Dalam kericuhan baru ini demonstran yang jumlahnya ribuan melakukan serangan balasan setelah Polisi Hong Kong melemparkan gas air mata ke arah mereka. Pelemparan gas air mata tersebut ditujukan untuk membubarkan konsentrasi massa.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

 

Akibat makin tidak terkendalinya kondisi Hong Kong, Pemimpin Daerah Administrasi Khusus China ini CY Leung menyerukan agar semua warga Hong Kong menahan diri. Menurutnya, bila terus seperti ini kondisi Hong Kong akan terus memburuk.

 

"Saya harap warga bisa tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan isu yang beredar," sebut Leung, seperti dikutip dari BBC, Senin (29/9/2014).

 

"Polisi akan berusaha untuk menjaga ketertiban sosial, termasuk memastikan kelancaran lalu lintas dan memastikan keselamatan publik," sambung dia.

 

Namun, permintaan dari Leung ini nampaknya tidak akan terwujud. Hal ini karena sepanjang malam para demonstran masih terus tinggal di depan kompleks pemerintahan.

 

Padahal tidak cuma menyuruh tenang, Leung pun sempat mengecam aksi demo ini. Dia pun tidak segan-segan menyebut demo ini adalah tindakan ilegal.

 

Demo di Hong Kong di gerakan oleh mahasiswa. Aksi unjuk rasa ini ditujukan mendesak pemerintah China, -sebagai pemerintah pusat- untuk menggelar pemilu demokratis pada 2017 mendatang.

 

Sebelumnya, pemerintah pusat menjanjikan Hong Kong sebagai wilayah dengan otonomi luas. Tetapi Agustus lalu, China tidak mengizinkan warga untuk memilih langsung pemimpin daerahnya dan tetap mengharuskan pemimpin Hong Kong nantinya dipilih melalui seleksi yang dilakukan oleh komite yang dianggap loyal terhadap China.

(ger)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini