Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement
Sumpah Pemuda (1)

Sang Resi di Simpang Jalan

SINDO , Jurnalis-Minggu, 26 Oktober 2008 |12:52 WIB
Sang Resi di Simpang Jalan
A
A
A

Pemuda kerap menempatkan diri sebagai agen perubahan dalam sejarah sebuah negara. Namun, ada juga kekhawatiran, kaum muda justru larut dalam dunianya sendiri sehingga melupakan rakyat.

Sifat apatis, statis, lamban sering diidentikkan dengan kaum tua. Namun, sejatinya karakter seseorang tidak bisa diukur dari urusan tua atau muda. Bahwa yang muda pasti lebih berkarakter dibandingkan yang tua. Tidak begitu menilainya. Sebab, tua atau muda hanyalah ukuran siapa lebih dulu "menghirup napas".

Akan tetapi, dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa, kaum muda kerap menjadi avant garde (ujung tombak). Anak muda acap memilih untuk mengubah sejarah sebuah bangsa dengan caranya sendiri. Hal itu pula yang diungkapkan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) Adhyaksa Dault.

Menurutnya, kaum muda harus berada di garda terdepan dalam membangun sebuah bangsa. Itulah mengapa kaum muda memiliki tugas yang berat untuk mewujudkan pendiriannya akan kebenaran, sebagai pemecah kebekuan sejarah.

"Kemampuan untuk memecah kebekuan sejarah bukan monopoli kaum muda. Namun, sejarah menunjukkan peran tersebut hampir selalu dimainkan pemuda," tandasnya. Menurut mantan Ketua Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia ini (1999-2002), konstelasi politik yang terbentuk di hampir setiap negara selalu menempatkan kaum muda dalam posisi terdepan. Sebab, mereka dianggap masih memiliki idealisme dan keberanian untuk melakukan perubahan.

"Saya tidak mengatakan pemuda itu independen. Saya hanya ingin mengatakan, dibandingkan dengan generasi tua, katakanlah yang sekarang memegang kekuasaan, peluang kaum muda untuk memecah kebekuan itu jauh lebih besar. Yang namanya perubahan, tentu saja tidak akan bisa terjadi dalam situasi yang beku," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PKB (versi MLB Parung) Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid atau yang lebih dikenal dengan Yenny Wahid menilai sebutan "muda" adalah sifat sehingga musuh bagi kaum muda adalah sifat apatis, skeptis, dan tidak dinamis. Para pemuda inilah yang akan mendobrak kemapanan sistem yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

"Sebab misalnya dari kaum muda muncul sikap apatisme, ini justru yang berbahaya," ujarnya. Untuk itu,Yenny sangat apresiatif dengan makin maraknya kaum muda yang berkiprah di dunia politik. Namun dia mengingatkan kaum muda untuk tidak terjebak pada budaya konsumtif dan oportunistis. Sifat ini akan menjerumuskan kaum muda untuk menghalalkan segala cara dalam mewujudkan tujuannya.

"Sudah lazim dipahami, sifat kaum muda itu cenderung berani, nekat, dan terkadang melakukan kesalahan. Memang terkadang harus salah bagi kaum muda yang masih mau dan berani hidup susah untuk memperjuangkan keyakinannya," tandasnya.

Setidaknya, konteks perjuangan kaum muda saat ini bisa mengambil semangat gerakan pendahulunya. Sayangnya, sejumlah tokoh muda justru prihatin dengan semangat kaum muda sekarang. Maklum, di tengah kemajuan zaman saat ini, banyak kaum muda tidak mampu mentransfer kemajuan di era global. Akibatnya, dampak buruk globalisasi itu yang justru terasa. Mulai dari sifat konsumerisme, individualisme hingga hedonisme.

Padahal sederet sifat ini jelas bertentangan dengan karakter bangsa Indonesia yang dikenal berbudaya gotong royong, toleran, serta saling menghargai satu sama lain. Hal itulah yang diungkapkan Ketua Bidang Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Puan Maharani.

Namun, Puan tidak bisa memungkiri bahwa faktanya banyak kaum muda sangat rentan terseret ke jurang budaya hitam seperti penggunaan narkoba dan pergaulan bebas. "Tanggung jawab pemerintah dan masyarakat untuk memberikan pendidikan budi pekerti sejak dini dan mengedepankan kebertuhanan yang berkebudayaan secara menyeluruh. Mulai tingkat pendidikan rendah hingga tinggi," tandasnya.

Meski begitu, putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnopurti itu masih menaruh secercah optimisme terhadap kiprah kaum muda ke depan. Setidaknya, optimisme itu didukung fakta lain tentang banyaknya pemuda yang berprestasi di dunia masing-masing dengan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Atlet bulutangkis Taufik Hidayat, misalnya, yang berhasil meraih gelar juara dunia tunggal putra pada 2005.

Meski semangatnya berbeda dengan pemuda 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda, perjuangan pemuda seperti Taufik yang mampu berprestasi gemilang harus diacungi jempol. Namun, menurut Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, meski sudah banyak kaum muda yang berkiprah di kancah politik misalnya, ternyata hal itu belum cukup mendorong regenerasi secara ideal.

Menurutnya, kondisi semacam inilah yang menjadi tuntutan dan tantangan sejarah bagi kaum muda. "Karena ada hambatan kualitas birokrasi," tandasnya. Meski demikian, di bidang ekonomi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa justru bangga dengan prestasi kaum muda saat ini. Sebab, kiprah pemuda di sektor bisnis mulai terlihat.

Meski begitu, soal keyakinan berkarya anak muda harus terus didorong. "Harus ditumbuhkan kepercayaan diri yang kuat pada pemuda bahwa mereka bisa melakukan hal yang berarti. Dalam bidang ekonomi kepercayaan itu bisa diwujudkan dengan upaya membangun ekonomi sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain," katanya.

Konteks peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda saat ini setidaknya bisa dijadikan perenungan kembali bagi generasi muda. Sebab, sejarah akan terus berulang untuk masa dan pelaku (pejuang) yang berbeda. Pemuda saat ini mempunyai potensi besar mengulang sejarah yang lebih monumental. Artinya, bersatunya Indonesia bukanlah sekadar ikrar, tetapi jauh merayapi setiap nurani pemuda dan rakyat Indonesia untuk kemudian melahirkan gerakan yang nyata.

Rasanya tidak berlebihan jika pemuda saat ini mencoba merenungi apa yang diungkapkan Soe Hok Gie tentang pemuda dalam Catatan Harian Seorang Demonstran (1967). Mahasiswa (pemuda) Indonesia berperan ibarat seorang resi (guru agama yang jagoan bela diri) yang turun gunung untuk menyelamatkan rakyatnya dari para penjahat yang mengancam.

Namun setelah para penjahat itu tewas atau melarikan diri, sang resi pun kembali ke tempat tinggalnya. Namun, saat ini juga ada kekhawatiran sang resi semakin betah dengan dunianya sehingga lupa kepada rakyatnya.

(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement