getting time...

Ratusan Penyelam 'Kelaparan' di KRI Makassar

Andi Aisyah - Okezone
Senin, 26 Oktober 2009 09:34 wib

JAKARTA - Sebuah insiden kecil menodai pelaksanaan Takabonerate Islands Expedition 2009 di KRI Makassar. Ratusan penyelam yang mengikuti event itu kecewa karena panitia tidak menyediakan konsumsi yang laik.

Sejumlah peserta pun akhirnya mengeluhkan pelayanan panitia pelaksana yang tak merealisasikan promosi seperti tercantum dalam undangan ke para peserta. Seperti yang dikeluhkan penyelam asal INCO, Megawati. Dia mengaku hanya menyantap mi instant maupun biscuit selama perjalanan di KRI Makassar melaui Selat Makassar.

Menurutnya, makanan yang disiapkan panitia tak memenuhi standar. "Untung kami bawa bekal sendiri. Sambil sesekali beli di kantin KRI. Padahal untuk mengikuti kegiatan ini kami membayar biaya administrasi," ujar Mega.

Hal senada diungkapkan pengurus Patompo Club asal Makassar Bobby Patompo. Bobby mengaku kecewa dengan pelayanan dan fasilitas KRI Makassar. Menurutnya, KRI tidak siap memberikan pelayanan sesuai promosi yang disebar pada saat pendaftaran. "Katanya pelayanan di atas KRI setingkat hotel berbintang. Ini melayani kebutuhan makan peserta saja tidak becus. Kami kelaparan, panitia malah lepas tangan," tegasnya.

Bobby mengatakan, perjalanan itu bukanlah ajang rekreasi para pejabat daerah dan keluarganya. Menurutnya, keberadaan para penyelam dalam ekspedisi Takabonerate ini sangat penting guna mengenalkan keindahan bawah air Taman Laut Takabonerate. "Kami sulit memperoleh makanan jadi yang telah dimasak. Kalaupun disiapkan di atas kapal oleh pihak KRI. Antreannya sangat panjang pula," pungkasnya.

Sebanyak 220 penyelam dari berbagai wilayah di Indonesia menjadi peserta dalam Takabonerate Islands Expedition 2009. Mereka berasal dari 14 klub dan berbagai instansi dalam lingkup Pemprov Sulsel. Tiga artis ibu kota juga menjadi peserta dalam kegiatan ini. Mereka adalah Nadine Chandra Winata, Lusy Rahmawati, dan Putri Patricia.

Pantauan di atas KRI Makassar, peserta tak mendapatkan informasi yang cukup tentang bentuk pelayanan di atas kapal perang tersebut. Panitia pelaksana dari Dinas Pariwisata Pemprov Sulsel bahkan tak terlihat memberikan informasi kepada para peserta ekspedisi termasuk para penyelam.

Sementara itu, para anggota TNI-AL dari kru KRI Makassar sebagai mitra kerja panitia pun tak memberikan informasi yang memadai pula. Bahkan para anggota TNI-AL tersebut jika dimintai informasi sebagian besar malah membentak maupun mengumpat kepada para peserta.

KRI Makassar merupakan alat Transportasi yang membawa peserta ekspedisi saat berangkat dari Makassar ke Taman Laut Taka Bonerate, begitu pula dengan perjalanan pulangnya. Peserta meninggalkan Pelabuhan Makassar pada Jumat 23 Oktober siang, dan tiba di Makassar pada Senin 26 Oktober.

Program ini merupakan kerjasama Pemprov Sulsel dengan TNI-AL. Turut serta selama perjalanan Panglima Komando Armada Timur Laksamana Muda Ignatius Dadiek Suparto beserta Danlantaman VI Makassar, Bambang. Dari pemprov Sulsel juga turut serta Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Numang.
(ful)

  • andrew » 0 Tanggapan
    saya juga ikut acara ini. ini semua kesalahan dinas pariwisata.. dan bukan kesalahan TNI-AL. ketentuan awal yang naik kapal itu seharusnya kurang dari 600 orang, ternyata dinas pariwisata menjualnya dengan bebas hingga mencapai seribu org lebih. KRI merupakan kapal perang, dan TNI-AL bukan pembantu atau pelayan peserta. walaupun kerja sama seharusnya berfikir. udah gitu. satupun orang dinas pariwisata tidak kelihatan sama sekali. baik itu mengatur peserta, kebersihan dan lain2. malaha ada banyak dari kumpulan mahasiswa penyelam yang ikut membantu pihak TNI-AL dalam berbagai hal yaitu antrian makan, kebersihan dll. Lagian peserta yang kebanyakan pegawai yang bergelar, berpendidikan merupakan pelaku pembuat kotor KRI-590, kebanyakan membuang sampah sembarangan, merokok tidak pada tempatnya, mandi di wc padahal tempat mandi ada. Cermin apaan nih. bikin malu bangsa indonesia. pada saat seminar, yang diperhatikan malah orang2 parlente, yg tidur pada saat presentasi berlangsung dan mahasiswa tidak dianggap sama sekali. skali lg ini diluar pengawasan pihak AL dan dinas pariwisata dan pemprovlah yang seharusnya bertanggung jawab
    Beri Tanggapan Laporkan
  • bulus rowo » 0 Tanggapan
    Saya sebagai salah satu peserta di even festival takabonerate memang turut merasakan suasana ketidaknyamanan di acara tersebut...... Namun tanpa perlu menyalahkan siapapun ada baiknya hal itu dijadikan sebagai pelajaran dan instropeksi untuk semua pihak. Buat panita mungkin karena ini adalah kali pertama menyelenggarakan even semacam itu sehingga masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Untuk penyelenggaraan acara serupa yang akan datang perlu persiapan yang lebih matang dalam menentukan jumlah peserta yang akan ikut serta, susunan kepanitiaan, koordinasi yang lebih matang dengan pihak terkait dan lain sebagainya..... Sayang kan kalau output dari acara tersebut tidak sesuai yang diharapkan dan tidak sebanding dengan milyaran rupiah yang sudah dikeluarkan. Pihak kapal juga tidak bisa disalahkan karena berdasarkan keterangan dari pihak KRI, ternyata akomodasi yang disediakan sesuai rencana dari panitia dalam hal ini pihak pemprov sulsel adalah sekitar 600 orang, berselisih jauh dengan jumlah penumpang yang mencapai seribu orang lebih. Bagi para peserta yang membeli tiket mungkin merasa ingin mendapatkan pelayanan yang lebih karena sudah membayar kepada panitia. Hal yang mungkin disesalkan adalah rendahnya budaya antri dan membuang sampah pada tempat oleh para peserta sehingga kapal yang pada waktu pertama saya naiki kondisinya demikian bersih dan rapi baru dua hari perjalanan sudah menjadi tempat sampah raksasa dimana sampah dan puntung rokok bertebaran dimana-mana. Untung aja ada ABK yang membersihkan. Ditambah lagi insiden kecil keterlambatan rombongan artis ibukota yang cantik jelita itu.........
    Beri Tanggapan Laporkan
  • wahyuddin » 0 Tanggapan
    yah.... knapa bisa terjadi? inilah mungkin penyebabx mengapa kabupaten ini kurang berkembang!! karena pejabatx pada korupsi semua!!!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • adi » 0 Tanggapan
    Yah inilah..kebiasaan birokrat di Indonesia fasilitas negara apapun dikorupsi untuk keluarganya...
    Beri Tanggapan Laporkan
  • pua » 0 Tanggapan
    ckckckck...kasihan
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.