BLITAR - Tiga kecamatan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yakni Bakung, Udanawu, dan Talun ditetapkan Dinas Kesehatan setempat sebagai daerah endemis penyakit kaki gajah (filariasis).
Di ketiga wilayah tersebut, petugas menemukan 11 kasus penderita filariasis. “Perincianya Kecamatan Bakung sebanyak tujuh orang dan Udanawu serta Talun, masing masing dua penderita,” beber Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Masalah Kesehatan Dinkes Blitar, Hari Purwanto, Rabu (23/3/2011).
Sebagian besar penderita terjangkit sejak 2010 dan baru diketahui pada 2011. Sebagaimana gejala awal, penderita penyakit kaki gajah merasakan demam tinggi yang berkelanjutan selama 3-5 hari.
Reaksi gigitan nyamuk yang membawa virus cacing filaria itu berangsur-angsur hilang saat korban mendapat istirahat yang cukup. “Namun rasa itu (demam) kembali muncul saat kelelahan,“ terang Hari.
Bersamaan dengan dengan demam muncul bercak merah di lipatan paha dan ketiak. Tanda merah yang disertai rasa sakit ini akibat membengkaknya kelenjar getah bening.
Pada gejala kronis, bagian tungkai, lengan, buah dada, serta buah zakar korban membesar.
Pembesaran yang mengandung nanah dan darah ini bisa pecah. “Beberapa pasien berada pada kondisi ini dan akan mengakibatkan cacat permanen,“ jelas Hari.
Saat ini dinas telah memberikan penanganan medis kepada para korban tersebut. Mengingat kaki gajah bisa menular antarmanusia, selain melakukan sosialisasi, dinkes juga meminta semua warga untuk rajin membersihkan tempat-tempat yang diduga menjadi sarang nyamuk.
“Langkah lainya juga dengan melakukan pemeriksaan darah sebagai antisipasi dini,“ paparnya.
Menanggapi hal ini, Koordinator Dewan Kesehatan Rakyat Jawa Timur Arif Witanto berharap apa yang disampaikan dinas kesehatan bukan lips service semata.
Sebab, seringkali yang terjadi, penanganan baru diberikan setelah kondisi berlangsung parah. “Ini tidak hanya mengenai penyakit kaki gajah, tetapi juga penyakit lainya,“ ujarnya.
(Solichan Arif/Koran SI/ton)