Meski popularitasnya menurun,SBY masih pilihan favorit rakyat.Sisa masa kepemimpinannya menjadi taruhan. Mampukah dia melahirkan kebijakankebijakan yang berpihak pada rakyat?
Tahun ini bisa jadi pertaruhan bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mempertahankan kursi presiden periode berikutnya. Popularitas SBY yang naik dan turun menunjukkan posisi SBY belum begitu aman dan memungkinkan digantikan sosok lain pada Pemilu 2009 nanti.
Jika kinerja SBY pada 2008 menunjukkan tren menurun dan tidak mampu memberikan harapan kesejahteraan yang lebih baik buat rakyat, bisa jadi tahun depan rakyat beralih ke sosok lain yang dianggap lebih baik. Naik turunnya popularitas SBY bagi Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok merupakan suatu fenomena yang wajar dalam sebuah iklim politik.
Apalagi nuansa politik saat ini ibarat gelombang laut yang bisa bergerak kapan saja. Isu yang diembuskan juga merupakan salah satu faktor penting untuk menentukan tingkat popularitas seorang pemimpin. "Maksimalkan sajalah.Kita itu tidak boleh mengatakan janji-janji, itu sulit, objektif saja. Kita kerja maksimal saja, Tuhan yang jadi faktor penentu," ungkapnya.
Apalagi, tahun ini merupakan masa yang cukup berat bagi pemerintahan SBY akibat melonjaknya harga minyak dunia yang sudah menyentuh level USD100 per barel. Kondisi ini menjadi dilema bagi SBY sekaligus tolok ukur penilaian rakyat terhadap pemerintahan tokoh yang dijuluki "Si Jerapah" ketika menjalani pendidikan di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, itu.
Apakah akan mengeluarkan kebijakan yang populis sehingga rakyat tetap senang, atau justru sebaliknya, realistis dengan kenyataan yang ada dengan konsekuensi rakyat kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah.
"Saya kira pemimpin itu harus realistis.Tidak selamanya popularitas itu menguntungkan, jika bertentangan dengan realitas. Bayangkan kalau minyak tidak dinaikkan,tenggelam kita. Seorang pemimpin kadang harus berani mengambil kebijakan yang terkadang di mata rakyat tidak populer. Bahwa ada riaknya itu pasti," katanya.
Berdasarkanhasiljajakpendapat Indo Barometer per Desember 2007, tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden SBY menurun. Sementara jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) Oktober 2007, setali tiga uang. Dari 58% menjadi 56%.Meski begitu, hasil jajak pendapat tersebut menunjukkan, mayoritas pemilih (49,5%) masih menginginkan SBY sebagai presiden periode berikutnya (2009-2014).
Sementara, yang tidak menginginkan kembali (33,4%) dan tidak tahu/tidak menjawab (17,1%). "Angka menginginkan kembali yang sedikit di bawah 50% ini merupakan lampu kuning untuk SBY. Jika publik menemukan figur alternatif seperti munculnya SBY pada 2004, SBY bisa kalah,"ungkap Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari. Figur calon presiden (capres) alternatif yang bakal menjadi batu sandungan buat SBY memang belum terlihat.
Dari sejumlah nama yang mencuat saat ini merupakan "stok lama" yang sudah cukup dikenal masyarakat.Ketua Umum PDIP Megawati Seokarnoputri yang notabone pernah menjabat presiden, misalnya.Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) juga disebut-sebut bakal maju dalam Pemilihan Presiden (Pilres) 2009,Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Dewan Suro Abdurrahman Wahid, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
Praktis, dari sekian nama yang beredar, hanya Sutiyoso dan Sultan HB X yang bisa dikatakan capres alternatif. Meski demikian, kedua tokoh ini bukan tokoh baru di tengah masyarakat.Posisi mereka sebagai gubernur di daerah masing-masing menjadikan segala aktivitas dan kebijakan mereka selalu menjadi perhatian publik. "Nama dan wajah baru itu belum muncul. Hal ini terlihat dari pertanyaan terbuka (top of mind), di mana tujuh nama yang muncul adalah nama yang ituitu juga.
Di antara nama-nama itu SBY masih memperoleh dukungan terbanyak. Disusul Megawati dan namanama lain,"jelas Qodari. Capres paling dikenal berdasarkan survei itu adalah SBY (97,7%) dan Megawati (97,4%). Sementara Wiranto 79,8% dan Sutiyoso 63,9%.Tingkat kesukaan pada capres tertinggi pada SBY (89,2%) dan Megawati (82,7%).Wiranto 75,4%,Sutiyoso 69,2%.
Setidaknya, hasil survei membuktikan tiga tahun masa kepemimpinan SBY dinilai belum mampu menyelesaikan kompleksitas permasalahan negeri ini. Namun,dibandingkan Mantan Presiden Megawati-yang diprediksi masih menjadi lawan kuat SBY-kinerja SBY secara umum masih dianggap lebih baik. Publik menilai SBY mampu memecahkan semua masalah, jujur, tegas dalam mengambil keputusan, berwibawa sebagai pemimpin, bijaksana, dan pintar.
Publik memberikan penilaian yang bervariasi tentang kondisi aneka bidang di bawah pemerintahan SBY-JK. Mayoritas publik menyatakan kondisi keamanan, hukum,dan politik baik. Namun menyatakan tidak baik untuk ekonomi. "Bila public ditanya siapayang lebih baik, apakah Presiden SBYatau Megawati dalam menyelesaikan masalah di aneka bidang,semuanya menyatakan SBY lebih baik kecuali untuk bidang ekonomi. Dalam bidang ekonomi Megawati lebih baik," katanya.
Evaluasi atas sejumlah indikator bidang ekonomi seperti meningkatkan penghasilan, mengurangi pengangguran, melindungi TKI, masih mendapat evaluasi negatif dari publik. Yang positif baru menyediakan kebutuhan pokok. Sebaliknya, kinerja pemerintah SBY dalam masalah politik hukum dan keamanan, seperti pelaksanaan otonomi daerah (otda), pemilihan kepada daerah(pilkada), memberantas narkoba, mengatasi ancaman terorisme, menyelesaikan masalah perpecahan di Aceh dan di Papua, mendapat evaluasi positif dari publik.
Namun,pemberantasan korupsi di pemerintahan dianggap masih kurang. Di bidang kesejahteraan rakyat, ada variasi evaluasi publik. Untuk menyediakan fasilitas pendidikan, kesehatan, sarana umum, dinilai positif. Tetapi untuk menyediakan perumahan rakyat, evaluasi publik mayoritas negatif.