Mengukur Tinggi Air dengan Teknologi Gray Code

Cuk Sahana, Jurnalis
Sabtu 18 Juni 2011 10:04 WIB
Image: corbis.com
Share :

YOGYAKARTA - Dalam hal tertentu seperti program antisipasi bencana, irigasi atau teknologi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), data tentang pengukuran ketinggian permukaan air merupakan hal yang vital. Namun alat pengukuran ketinggian muka air yang ada saat ini seperti potensiometer dan peralatan ultrasonic , dirasa masih kurang efektif dan hanya dapat mengukur ketinggian dalam skala terbatas.

Hal tersebut menginspirasi Asep Nurdiansyah, mahasiswa jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), untuk mengembangkan alat pengukur ketinggian permukaan air dengan mengaplikasikan Gray Code yang lebih efektif dan punya jangkauan ukur yang lebih lebar.

“Pengukuran ketinggian permukaan air sebagai suatu upaya pemantauan dirasa sangat penting akhir-akhir ini. Sedangkan metode pengukuran (ketinggian muka air) dengan mistar ukur kurang efektif. Alat-alat pengukur lain yang ada saat ini juga memiliki banyak keterbatasan,” ungkap Asep, Sabtu (18/6/2011).

Ditambahkannya, penerapan teknologi Gray Code (encoder gray) akan memperkecil kemungkinan alat mudah aus seperti pada potensiometer. Encoder gray juga dapat mengukur perubahan ketinggian air yang lebih dalam dibanding peralatan ultrasonik yang hanya mampu sampai dengan jarak 160 cm.

“Selain itu, dengan alat ini, kita dapat mengetahui langsung perubahan ketinggian muka air lewat layanan pesan singkat ke telepon seluler (ponsel) tanpa harus meninjau ke lokasi,” Asep mengimbuhkan.

Dia menjelaskan, untuk mendapat data ketinggian air di suatu lokasi yang diinginkan, alat ciptaannya ini cukup diset di atas sebuah pelampung. Lalu tinggal diatur kapan atau kondisi bagaimana alat ini mengirim pesan pendek ke telepon genggam kita. Bentuk pengaturan itu bisa berupa ketinggian air pada waktu-waktu tertentu atau perubahan tertentu pada ketinggian muka air.

“Dengan menggunakan baterai sebagai sumber tenaga, alat ini tidak perlu menggunakan sumber listrik PLN sehingga dapat lebih mudah ditempatkan di mana saja,” katanya.

Alat buatan mahasiswa asal Temanggung ini terdiri dari empat bagian utama yaitu: sensor, pengolah, penampil, dan media transmisi. Sensor yang digunakan adalah rotary encoder yang lazim digunakan pada pengendalian robot dan motor drive. Sedangkan pengolah yang diaplikasikan yaitu Unit Pengolah Mikrokontroler ATMega162. Media penampilnya berupa LCD dan media transmisinya berupa teknologi SMS (Short Message Service) berbasis GSM.

Sedangkan Kode Gray (Gray code) yang merupakan inti dapat bekerjanya alat ini merupakan kode matematika yang diperkenalkan dan dipatenkan oleh Frank Gray pada 1947. Kode yang dikenal juga sebagai reflected binary code ini merupakan sistem penomoran biner yaitu ada dua nilai yang bersebelahan hanya memiliki tepat satu digit beda. Pada awalnya, Kode Gray ini diaplikasikan sebagai teka-teki bagi untuk para ahli matematika saat itu.

Diakui Asep, alat pengukur sejenis memang telah ada di pasaran. Namun alat tersebut merupakan produk impor dan harganya sangat mahal bila dibanding dengan alat pengukur hasil kreasinya. Menurutnya, alat ciptaannya ini sangat cocok dipakai untuk memantau level air tanah atau ketinggian air bendungan sampai level 6 meter.

Berkat bimbingan Helman Muhammad, ST., MT dan Ir. HM. Fathul Qodir selaku dosen pembimbing, alat yang merupakan bagian dari tugas akhir tersebut diselesaikan Asep dalam waktu sekira sebulan.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya