LOME - Aktivis sosial di Togo mendesak para perempuan agar berhenti berhubungan seks dengan suaminya dalam rangka memaksa Presiden Faure Gnassingbe mundur dari jabatan. Kampanye mogok seks itu dilakukan oleh ribuan massa di Kota Lome.
Pimpinan dari aktivis perempuan Togo, Isabelle Ameganvi mengatakan bahwa, aksi mogok seks akan memaksa pria Togo turun tangan dan memaksa Presiden Gnassingbe mengundurkan diri. Aktivis-aktivis dari kelompok yang dipimpin Ameganvi terinspirasi dengan perempuan Liberia yang menggunakan kampanye mogok seks pada 2003 untuk perdamaian.
"Kami memiliki banyak cara untuk membuat pria mengerti akan tuntutan perempuan Togo," ujar Ameganvi, seperti dikutip Associated Press, Senin (27/8/2012).
Kampanye mogok seks itu sudah dilakukan di beberapa wilayah di Kota Lome pada Sabtu pekan lalu. Para warga yang berpartisipasi dalam kampanye itu memprotes peraturan pemilu yang konon kabarnya akan memudahkan partai Gnassingbe memenangkan pemilu parlemen.
Gnassingbe naik ke tampuk kekuasaan pada 2005 silam, setelah mantan Presiden Eyadema Gnassingbe meninggal dunia. Eyadema yang tak lain adalah ayah dari Presiden Faure Gnassingbe, sudah menguasai Togo selama 38 tahun.
Pada awal Agustus, protes anti-pemerintahan terjadi di Togo. Namun aksi protes itu berhasil dibubarkan polisi dengan menggunakan gas air mata. Ratusan orang demonstran akhirnya ditangkap.
Rencana aksi mogok seks cukup mendapat tanggapan baik dikalangan masyarakat Togo. Beberapa perempuan setuju dengan hal itu karena anak-anak mereka menjadi tahanan politik. Bagi beberapa perempuan, mogok seks sama halnya seperti puasa.
Namun mereka turut mengkhawatirkan reaksi suami mereka dalam menanggapi aksi tersebut. Fraksi oposisi pun menilai, aksi mogok seks selama satu pekan cukup berlebihan. Sementara itu, Presiden Gnassingbe belum melontarkan komentarnya untuk aksi protes itu.
(Aulia Akbar)