JAKARTA - Bila bertanya kepada kawula muda mengenai tokoh wayang sebagian besar akan menjawab tidak tahu. Lain halnya ketika mereka ditanya soal K-Pop maupun gangnam style, dengan senang hati mereka akan menjelaskan. Miris memang betapa warisan budaya nenek moyang mulai kehilangan penggemar.
Hal ini pula yang menjadi sumber inspirasi mahasiswa mahasiswa semester akhir Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Abu Nazar. Dalam tugas karya akhirnya, Abu membuat 10 karya seni lukis kaca berjudul “Dewa Ruci.” Hasil karya tersebut tercipta melalui media kaca transparan 3 mm, cat akrilik, spidol permanen OHP, tinta, dan kertas tempel. Karya yang bercerita tentang lakon wayang yang jamak diwejangkan di berbagai perhelatan itu terpampang di lobi dekanat Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes.
“Saya mungkin salah seorang yang prihatin akan keadaan sekarang ini, yakni ketika kawula muda tidak lagi senang kepada wayang. Setidaknya melalui karya ini, saya harap mereka ingat dan merasa memiliki,” tutur Abu, seperti dilansir dari situs Unnes, Kamis (20/9/2012).
Mahasiswa yang berdomisili di Kendal itu menyatakan, lakon Dewa Ruci yang diangkatnya sebagai tema bercerita tentang pencarian jati diri seorang pemuda. Cerita ini juga menggambarkan kemandirian seorang ksatria. “Bratasena diperintah guru Drona untuk mencari kayu gung susuhing angin dan tirta pawitra sari di dasar samudera minangkalbu,” katanya menjelaskan.
Menurut Abu, cerita ini banyak mengajarkan nilai kehidupan yang sangat berguna bagi kaum muda. Sebab, Bratasena adalah contoh kegigihan seorang murid dalam menuntut ilmu dan melaksanakan perintah guru. “Tidak ada guru yang menginginkan muridnya tersesat,” ungkap pemuda berambut gondrong tersebut.
Sementara itu, Umar Imanuddin mencoba mengangkat karya yang lebih modern. Meski demikian, mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual Unnes itu tidak meninggalkan nilai-nilai tradisional. Menurut Umar, saat ini anak usia dini kurang mendapat pengetahuan cerita lokal. “Padahal cerita itu sebenarnya mengandung pesan moral yang mendalam,” ungkap Umar.
Dalam karyanya, Umar mengangkat “Ilustrasi Buku Pop-up Cerita Rakyat Jawa Tengah untuk Anak-anak Usia Dini.” Cerita rakyat menjadi inspirasi dalam pop-up tersebut adalah “Timun Mas dan Raksasa” dan “Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari” dan dikemas pada kertas digital printing dengan menggunakan cat air.
Melalui dua buah buku karyanya itu, Umar berharap mampu ambil bagian dalam mengenalkan potensi kearifan lokal kepada anak usia dini. “Perjuangan, ketabahan, dan kegigihan tidak pernah sia-sia,” ujarnya.
(Margaret Puspitarini)