JAKARTA - Suara dan beragam efek pendukung turut melengkapi sebuah film. Unsur tersebut juga bisa memberikan kontribusi dalam menarik penonton. Namun, apa jadinya jika film itu benar-benar tanpa suara alias bisu dari awal hingga akhir cerita?
Kejadian itu tampak dalam film pendek karya mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Cayuz Canisius dan Zidny Nafian. Bukan rusak atau terjadi kesalahan teknis, tapi keheningan itu memang sengaja mereka ciptakan.
Selama 16 menit 41 detik, para penonton tampak memperhatikan film berjudul Kunang-Kunang itu dengan antusias. Meski tanpa suara, termasuk ambiance, para penonton yang berada dalam studio benar-benar hening guna menikmati film tersebut.
Ditemui selepas pemutaran film, sang sutradara, yaitu Zidny mengaku tidak sengaja membuat film hening tersebut. Namun, lanjutnya, judul film itu yang akhirnya memantapkan mereka mengusung konsep tanpa suara.
"Sebenarnya itu kecelakaan bikin silent movie. Namun memang tidak ada suara yang bisa mewakili film ini. Seperti kunang-kunang yang bisa dilihat tanpa ada suara," ujar Zidny di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2014).
Menurut Zidny, film yang bercerita tentang seorang kakak yang berusaha untuk mengatasi ketakutan sang adik akan gelap itu sangat mudah dimengerti walaupun tanpa suara. Lewat film itu, Zidny dan kawan-kawan ingin menyampaikan kepada para penonton jika kunang-kunang atau sumber cahaya akan ada selamanya.
Dia mengaku, tidak ada kendala berarti yang ditemukan selama proses pembuatan film. Semua persoalan yang dialami selama proses produksi bisa dilewati atas kerjasama tim.
"Kami mulai produksi habis Lebaran. Kendala banyak jadwal yang molor dan lokasi yang jauh, crowded, dan tidak layak, yakni Bantar Gerbang. Kendala pasti ada tapi bukan masalah. Tim inti kami tujuh orang namun yang membantu ada 15-20 orang," jelas Zidny.
Zidny menyebut, pemutaran film tugas akhirnya itu dalam UMN Screen 2014 bukan menjadi target utama. Saat membuat film Kunang-Kunang, dia hanya berharap bisa lulus.
"Kami membuat ini hanya ingin lulus, untuk kepentingan kelulusan saja. Tapi ternyata film ini bisa diputar dalam UMN Screen 2014, ya itu bonus yang kami dapatkan. Kalau bisa diputar di festival lain juga alhamdullilah," katanya sembari tertawa.
(Rifa Nadia Nurfuadah)