WASHINGTON – Selasa 18 November 2014 telah terjadi aksi teror yang diduga dilakukan oleh warga Palestina dengan menyerang jemaat yang sedang beribadah di Sinagog, Yerusalem.
Tiga warga negara Amerika Serikat (AS) pun turut menjadi korban dalam aksi radikal tersebut. Presiden Barack Obama yang mengetahuinya langsung mengutuk serangan teror itu. Insiden tersebut membuat Obama mendesak Israel dan Palestina mengambil jalur damai.
“Kita tahu bahwa dua warga Palestina menyerang jamaah yang tidak bersalah saat sedang beribadah. Jelas, kami mengutuk kejadian ini,” kata Obama kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir Tolo News, Rabu (19/11/2014).
Bagi Obama, kejadian itu merupakan tragedi bagi AS dan Israel. Kami turut berduka bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tiga warga AS yang tewas dalam serangan tersebut adalah Aryeh Kupinsky, Cary William Levine, dan Mosheh Twersky. Sedangkan korban keempat merupakan warga negara Inggris.
“Tragisnya, ini bukanlah kejadian teror pertama yang pernah kita lihat dalam beberapa bulan terakhir. Sudah terlalu banyak warga Israel dan Palestina yang meninggal,” tegas Presiden AS itu.
Mayoritas warga Palestina dan Israel pasti menginginkan hidup yang damai dan membangun keluarga yang harmonis dengan aman.
“Saya pikir yang terpenting untuk saat ini adalah Palestina dan Israel dapat bekerja sama untuk menurunkan ketegangan dan menolak ketegangan (berdamai),” tutupnya.
(Hendra Mujiraharja)