PAMEKASAN - Kampung pengemis di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur rupanya tidak ada dengan sendirinya. Sebab diyakini keberadaan kampung pengemis tersebut erat kaitannya dengan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat setempat.
Menurut Mausul Nasri (30), tokoh masyarakat Dusun Pelanggaran, Desa Branta Tinggi, Kecamatan Tlanakan, di desanya ada salah satu tokoh agama pindahan dari Kabupaten Sumenep yang bernama Ki Moko.
Suatu ketika, Ki Moko yang kedatangan tamu dari Kerajaan hendak membeli hasil bumi yang saat itu melimpah di desanya untuk disuguhkan kepada raja. Namun warga menolak untuk menjual hasil tanaman dan buah-buahan kepada Ki Moko.
”Akhirnya Ki Moko pun mengutuk warga dusun Pelanggaran yakni hidupnya akan susah di kemudian hari. Ternyata benar, warga sini hidup dengan mengemis,” ucap Mausul kepada Okezone.
Selain itu, kata Mausul, sekira tahun 1960-an, desa setempat dilanda hama tikus yang menyerang tanaman, pakaian bahkan bayi pun ikut digigit oleh tikus. Warga terancam kelaparan akibat peristiwa tersebut.
“Mereka kemudian berbondong-bondong ke utara ke daerah penghasil singkong untuk mengemis singkong, ada juga yang bawa garam untuk ditukar dengan singkong,” lanjut Mausul.
Dikatakan Mausul setelah peristiwa tersebut mengemis menjadi hal yang lumrah dan bahkan menjadi mata pencaharian masyarakat. Sehingga tiga dusun, masing-masing Dusun Pelanggaran Desa Branta Tinggi, Dusun Pandan Desa Panglegur dan Dusun Asem Manis Kecamatan Larangan Tokol dikenal sebagai kampung pengemis.
Selain itu faktor ekonomi juga menjadi penyebab mereka mengemis, karena rata-rata persawahan warga kering dan gersang. Sehingga sulit untuk diolah karena sering terjadi kekeringan akibat kekurangan sumber air.
(Susi Fatimah)