JAKARTA - Juru bicara Kementerian Agama (Kemenag), Dodo Murtado mengatakan tidak semua pemondokan bagi calon jamaah haji Indonesia yang berada di Makkah memiliki kantin untuk memudahkan calhaj memperoleh makanan. Hal inilah yang menjadi pemicu calhaj asal Indonesia melakukan kegiatan memasak sendiri sehingga menimbulkan kebakaran di Hotel Sakkab al Barakah Azizah di Sektor IV pada Rabu 16 September 2015.
"Dari awal juga kita sudah melarang bahkan pihak pemerintah Arab Saudi juga melarang calhaj untuk memasak karena kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya,” jelasnya kepada Okezone di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2015).
Kendati begitu, dia menjelaskan, Kemenag tidak bisa memantau barang bawaan jamaah secara terus menerus sekalipun sudah dilakukan pengecekan di embarkasi, di mana barang yang boleh dan mana yang tidak dibawa. Bahkan sejak dari asrama haji sudah dilakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan jamaah haji sebelum terbang ke Tanah Suci.
“Kalau ada yang lolos bisa saja mungkin dan calhaj membeli di sana yang namanya rice cooker atau beras," kata Dodo.
Dodo mengutarakan, himbauan ini sebetulnya telah menjadi ketentuan saat jamaah akan menunaikan ibadah haji. Lagipula, himbauan tersebut sudah dilakukan sejak manasik haji agar calhaj tidak membawa barang-barang yang memicu bahaya. Bahkan regulasi baru di tahun ini Kemenag telah memberikan 15 kali makan siang kepada jamaah haji selama berada di Makkah.
"Apakah jumlahnya akan ditambah, kita akan lihat perkembangan. Kebijakan ini dinilai positif dan membantu calhaj memperoleh makan siang yang taste (rasanya) Indonesia. Nasi lauk acar, rendang karena chef-nya dari Indonesia baik di Makkah, Madinah maupun saat di Armina," jelasnya.
Menurutnya di Makkah banyak juga tersedia rumah makan siap saji yang menawarkan makanan. Namun yang menjadi persoalan perbedaan selera bagi calhaj asal Indonesia.
Ia mencontohkan warga Indonesia yang menyukai rendang tidak mungkin harus memakan kebab Turki dan tentunya tidak sesuai dengan lidah mereka. Di Makkah memang ada restoran Indonesia, tapi restoran tersebut kesulitan melayani sekian ribu calhaj dari Tanah Air.
"Intinya di sana juga ada warung makan yang sediakan makanan. Untuk itu pemerintah membantu jamaah untuk makan siangnya berupa nasi. Baru tahun ini ada pemberian makan siang sebanyak 15 kali sebelum ke Armina untuk wukuf. Di Armina mereka dapat jatah makan dua kali siang dan malam. Sedangkan di Madinah selama sembilan hari diberikan makan siang dan makan malam plus roti untuk makan pagi," terangnya.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))