Kampung Boncos ini berdiri pada medio 1996, atau bertepatan dengan maraknya premanisme di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kala itu, beberapa preman hijrah ke Kampung Boncos dengan membawa narkoba jenis putau dan heroin. Bulan demi bulan, tahun demi tahun, pergerakan narkoba di kampung ini kian meluas dan membesar.
Peredaran narkoba di wilayah tersebut lambat laun semakin menggurita. Banyak pengguna narkoba memilih wilayah ini untuk teler menggunakan barang haram tersebut. Kampung Boncos yang mayoritas huniannya terbuat dari kayu dan triplek tersebut dikenal dengan "paket hemat" atau pahe dalam sistem jual beli narkoba.
Para bandar yang biasanya beredar mulai pukul 15.00 WIB hingga 03.00 WIB biasanya melayani pengguna-pengguna ekonomi lemah, dengan paketan kecil. Per pahe (Putau) dibanderol Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Takarannya yaitu 0,03 gram sampai 0,2 gram, namun biasanya banyak yang membeli senilai 0,05 gram.
Tak heran, maraknya peredaran narkoba makin memperluas penyakit menular seperti HIV/AIDS di kampung ini. Jarum suntik yang digunakan untuk teler biasanya digunakan secara bersamaan. Alhasil peredaran penyakit mematikan tersebut bisa sangat cepat.
Mengutip hasil penelitian salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS, sekira 95 persen pengguna jarum suntik terjangkit penyakit mematikan itu. Jadi tak heran, jika di wilayah tersebut, selain peredaran narkoba, juga berpotensi dalam peredaran penyakit mematikan HIV/AIDS.
(Khafid Mardiyansyah)