MUNICH – Penyelidikan terbaru atas pemuda Jerman-Iran yang menjadi tersangka tunggal dalam serangan di Munich menunjukkan Ali David Sonboly (18) sebagai pemuda pemalu yang sering di-bully, menderita depresi dan sangat terobsesi pada penembakan massal.
Hal ini terungkap saat polisi menggeledah kediamannya di suatu apartemen berlantai empat yang berlokasi di Jalan Dachauer No.69, Maxvorstadt. Dari kamarnya, polisi unit khusus, Spezialeinsatzkommandos (SEK) menemukan banyak dokumentasi serangan brutal dan sebuah buku berjudul, “Why Kids Kill: Inside the Minds of School Shooters’.
“Ditemukan beberapa barang di apartemen pelaku yang menunjukkan ketertarikan khusus pada aksi penembakan brutal. Sejauh ini belum ada indikasi motifnya terkait dengan kelompok terorisme internasional,” ujar pejabat tinggi dalam Kementerian Dalam Negeri Jerman, Thomasa de Maiziere, seperti disitat dari Independent, Minggu (24/7/2016).
Maiziere menduga bahwa pelaku terlebih dahulu melakukan riset sebelum melancarkan serangan di di pusat perbelanjaan Olympia-Einkaufszentrum, Munich, pada Jumat, 22 Juli 2016 petang waktu setempat.
Hal ini terlihat dari koleksi buku dan videonya. Antara lain, mengumpulkan data-data penembakan brutal di sekolah Jerman pada 2009, serangan bom dan penembakan di Norwegia oleh Anders Behring Breivik yang membunuh 77 orang tepat lima tahun yang lalu pada Jumat juga.
Sonboly lahir dan tumbuh besar di Munich. Diketahui juga dia pernah dibawa ke psikiater oleh orangtuanya karena menderita depresi berat. Sebagaimana dia sering dibully oleh kawan-kawan seumurannya.
Terkait catatan kriminalnya, ada dua kejahatan kecil yang pernah dia lakukan. Pencurian pada 2010 dan melakukan kekerasan pada seseorang tahun 2012.
Sementara itu, motif penembakannya masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Keputusan pelaku untuk mengakhiri hidupnya sendiri saat terdesak, menyulitkan penyelidikan terhadap alasan dia membunuh sembilan orang dan melukai 27 lainnya.
Di mana sepuluh orang terluka parah dan dalam kondisi kritis saat ini, termasuk seorang anak laki-laki berusia 13 tahun. Secara keseluruhan, korbannya meliputi remaja berusia 14 tahun, dua orang berusia 15 tahun, seorang berusia 17 tahun dan satu lagi 19 tahun. Ada juga yang 20 dan 45 tahun.
(Silviana Dharma)