MUNICH – Penembakan di Munich yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai 27 lainnya masih dalam penyelidikan mendalam oleh polisi unit khusus, Spezialeinsatzkommandos (SEK).
Selain motif dan latar belakang pelaku, baik secara psikologi maupun asal-usulnya, polisi juga memfokuskan penyelidikan pada senjata yang digunakan pelaku untuk menembak di pusat perbelanjaan Olympia-Einkaufszentrum, Munich, pada Jumat, 22 Juli 2016 petang waktu setempat.
Pribadi Ali David Sonboly (18) sebenarnya dikenal pemalu. Namun dalam sebuah video, pelaku sempat mengutarakan, “saya di-bully selama tujuh tahun dan sekarang saya harus membeli sebuah senjata dan menembak kalian semua.” Demikian disadur dari Independent, Minggu (24/7/2016).
Meski tampak seperti balas dendam, alih-alih ada kaitannya dengan aksi terorisme internasional, polisi belum bisa memastikan motif pelaku melakukan penembakan brutal tersebut. Di mana mayoritas korbannya adalah remaja belasan tahun.
Kembali ke persoalan senjata yang digunakan pelaku, diketahui bahwa dia memakai pistol Glock 17 buatan Austria, yang umum dipakai oleh banyak penegak hukum di seluruh dunia. Ukurannya sekira 9 milimeter dengan 300 butir amunisi ditemukan dalam ranselnya.
Polisi mengaku agak sedikit heran, karena tidak seperti di Amerika Serikat, penjualan senjata di Eropa sangat terbatas. Jerman, bahkan dikenal sebagai negara di Benua Biru yang paling ketat dalam mengatur penjualan senapan api (senpi).
“Penyelidikan masih mencoba mengkaji dari mana senpi itu berasal. Pasalnya pelaku tidak terdaftar sebagai pemilik pistol tersebut,” ungkap penyidik, Robert Hemberger.
Berdasarkan aturan yang berlaku di Jerman, mereka yang berada di bawah 25 tahun harus menjalani tes kejiwaan jika ingin membeli dan memiliki senpi. Barangsiapa yang terdeteksi kecanduan obat-obatan, peminum maupun mengidap sakit mental jelas dilarang memiliki lisensi senpi.
Para ahli mengatakan kepada surat kabar harian Frankfurter Allgemeine Zeitung pada Januari lalu, meski pemerintah Jerman begitu ketat, tetap saja ada 20 juta senpi yang dijual secara ilegal di negeri bekas pimpinan Nazi tersebut.
(Silviana Dharma)