Kanselir Jerman: Status Yerusalem Bukan Pembenaran Sentimen Anti-Yahudi

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis
Selasa 12 Desember 2017 01:04 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel saat bertandang ke Gedung Putih untuk bertemu Presiden AS Donald Trump (Foto: Jonathan Ernst/Reuters)
Share :

BERLIN – Kanselir Jerman, Angela Merkel menyatakan, pengakuan Amerika Serikat (AS) terkait Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel tidak seharusnya digunakan sebagai pembenaran slogan-slogan anti-Semit di negaranya.

BACA JUGA: Kedubes AS di Jerman Digeruduk Massa yang Mengamuk, Bendera Israel Dibakar

Komentar tersebut dikeluarkan setelah 2.500 orang menggeruduk Kedubes AS di Berlin pada Minggu 10 Desember malam waktu setempat. Massa pengunjuk rasa bahkan membakar bendera Israel dalam demonstrasi tersebut. Merkel mengatakan, Jerman akan melawan segala bentuk xenophobia dengan kekuatan penuh.

“Kami mengecam segala bentuk anti-Semit dan xenophobia. Ketidaksetujuan, bahkan terkait status Yerusalem, tidak sama sekali dapat membenarkan aksi tersebut,” ujar Angela Merkel, melansir dari Reuters, Selasa (12/12/2017).

BACA JUGA: Pemerintah AS Resmi Umumkan Status Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Sentimen anti-Semit masih menjadi isu sensitif di Jerman, salah satu sekutu dekat Israel. Sebagaimana diketahui, hampir 70 tahun lalu Jerman terlibat dalam pembantaian sekira 6 juta orang Yahudi pada era Nazi.

Juru bicara pemerintahan Jerman, Steffen Seibert mengatakan, Negeri Panser memiliki tanggung jawab sejarah untuk membela Israel dan orang Yahudi di mana pun.

“Sangat memalukan ketika kebencian terbuka terhadap Yahudi diperlihatkan di jalanan kota-kota Jerman. Undang-undang kebebasan berekspresi kita menjami setiap orang memiliki hak menggelar aksi damai, tetapi hak tersebut bukan berarti bebas untuk kekejaman anti-Semit, untuk menghasut, dan untuk kekerasan,” ujar Steffen Seibert.

Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, mengaku dapat memahami kritik yang dilancarkan terhadap AS. Namun, setiap orang tidak memiliki hak atau alasan untuk membakar bendera Israel, menghasut kebencian terhadap Yahudi, atau mempertanyakan hak eksistensi Israel.

Gabriel menambahkan, Jerman hanya mengizinkan demonstrasi damai. Akan tetapi, Berlin tidak mengizinkan konflik di mana orang-orang bersiap menggunakan kekerasan untuk dibawa ke Jerman dari negara lain.

(Wikanto Arungbudoyo)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya