Ini Cara Mencegah Polarisasi Masyarakat Usai Pilpres 2019

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 28 Juni 2019 22:45 WIB
Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: Timotius/Antaranews)
Share :

POLARISASI atau terbelahnya masyarakat dinilai akan terus berulang jika perdebatan di seputar pemilihan presiden di Indonesia masih di seputar kandidat, bukan soal visi atau program kerja.

"Kita harus mengubah perilaku pemilih menjadi rasional, sehingga mereka memilih berdasarkan apa misi kandidat ke depan, apa prestasi kandidat, dan apa dilakukan kandidat sebelumnya," kata Cecep Hidayat, pengamat politik dari Universitas Indonesia, kepada BBC News Indonesia, Jumat (28/6/2019).

"Pemilih yang rasional akan menjatukan keputusan berdasarkan visi, misi, dan program kerja calon. Sedangkan pemilih yang tidak rasional akan menentukan pilihan berdasarkan basis-basis irasional, misalnya kesukuan, agama dan seterusnya," lanjut Cecep.

Ia menjelaskan, memang isu-isu yang fundamental, seperti agama, adalah isu yang paling mudah dipicu untuk melahirkan sentimen-sentimen dasar dalam politik.

"Ini ditunjang oleh politisasi SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), sehingga kemudian isu-isu SARA berkelindan dengan isu-isu politik. Ini membuat sebagian besar masyarakat menjadi ada yang rasional dan irasional. Jadi, ada pembelahan," ujar Cecep.

Polarisasi kian tajam sejak Pemilihan Presiden 2014 yang diikuti oleh dua calon yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Kontestasi dua politikus berulang kembali pada Pilpres 2019.

Sedemikian tajamnya sehingga muncul seruan apa yang disebut sebagai rekonsiliasi nasional.

Seruan ini kembali dikemukakan setelah Mahkamah Konstitusi pada Kamis 27 Juni 2019 menolak seluruh gugatan capres-cawapres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya