Fase Puber Politik Belum Usai, Hanura Tak Ingin Politikus Menipu Rakyat

Fahreza Rizky, Jurnalis
Sabtu 29 Juni 2019 13:30 WIB
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Hanura Tri Dianto. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Hanura, Tri Dianto, menilai puber politik bisa berbahaya jika terjadi dalam waktu lama. Pasalnya pada fase tersebut masyarakat akan terlibat pertikaian terus-menerus karena perbedaan pandangan politik.

"Puber kalau untuk manusia ya tidak ada bahayanya. Yang bahaya kan puber kedua dan ketiga. Tapi puber untuk politik bisa bahaya kalau waktunya lama. Bisa ribut terus. Konflik yang enggak jelas," kata Tri Dianto ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.

Istilah puber politik mulai populer dalam beberapa tahun belakangan. Fenomena tersebut menunjukkan betapa tingginya ketertarikan seseorang terhadap isu-isu politik. Tak ayal, pembicaraan mengenai politik mudah dijumpai di berbagai grup percakapan WhatsaApp hingga warung kopi.

Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan umum. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu tidak dibarengi penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta.

Berbagai fenomena yang menyesakkan dada turut mewarnai kondisi sosial-politik di Tanah Air. Misalnya saja gara-gara beda pilihan politik tega menyuruh saudaranya memindahkan makam. Ada pula yang tidak tegur sapa lantaran beda pilihan.

Nuansa emosional dan tak mampu menerima perbedaan pilihan acap kali mewarnai kondisi masyarakat kini. Fase tersebut menunjukkan betapa hasrat mampu mengalahkan akal sehat.

Tri Dianto memiliki pemaknaan tersendiri terhadap istilah puber politik. Puber diartikannya sebagai fase yang baru lewat dari masa kanak-kanak. Pada fase ini kedewasaan belum muncul tetapi ingin sok mengerti dan sok hebat. Mereka yang masih puber biasanya belum matang dalam berpikir dan suka tampil.

"Jadi ya banyak ributnya. Kalau debat antara orang-orang yang dewasa kan sehat dan ada mutunya. Kalau sesama puber cuma dapat ramainya saja," terang Tri Dianto.

Ia mengatakan, memiliki antusias tinggi terhadap politik itu bagus, namun antusiasme tersebut harus dibarengi penggunaan akal sehat serta terbuka untuk belajar. Jangan sampai terjebak pada fanatisme buta yang ujungnya membahayakan khalayak luas.

"Bahaya itu. Di sisi lain elite-elite ya kudu jujur dan mencerdaskan rakyat. Mendidik pendukungnya masing-masing. Jangan hanya meminta dukungan. Kalau hanya minta dukungan, elite-elite itu enggak berguna untuk membuat politik jadi lebih sehat," jelasnya.

Politikus Tidak Boleh Tipu Rakyat

Tridianto menegaskan politikus sangat diutungkan dengan tingginya antusias masyarakat dalam politik. Istilahnya, kata dia, pasar jadi lebih ramai dan dagangan jadi lebih laris. Tetapi, ia mengingatkan agar politikus tidak boleh menipu rakyat. Politikus harus mampu menjadi suri teladan bagi mereka.

"Politikus enggak boleh tipu rakyat atau hanya bikin rakyat jadi objek," tegas Tri Dianto.

"Ya tunjukkan saja tokoh-tokohnya dewasa dan tidak katrok. Kalau tokohnya bersikap dewasa, bisa ketemu dan damai, pasti pendukungnya ikut. Kalau tokoh-tokohnya katrok ya bisa pendukungnya berantem terus," tegas Tri Dianto.

(Hantoro)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya