JAKARTA – Ketua Umum DPP Rescue Perindo, Denny Adin, mengatakan puber politik adalah sesuatu yang wajar di negara berpenduduk beraneka ragam. Menurut dia, puber politik adalah fase untuk menuju demokrasi yang sebenarnya.
"Ini bagian perjalanan suatu bangsa menuju demokrasi yang sebenarnya," ujar Adin ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan, puber politik bukan sesuatu yang berbahaya. Justru saat ini masyarakat mesti diberi edukasi politik oleh elite melalui contoh yang baik. Jika proses pendidikan sudah berlangsung, ia menjamin tidak ada lagi politik "sumbu pendek" dan kebencian.
"Antusiasme masyarakat harus direspons oleh pemerintah atau politikus, pakar, dengan contoh politik yang santun. Sehingga, tidak terjadi politik sumbu pendek atau kebencian," ucap Adin.
"Ini memang tidak mudah karena tidak semua masyarakat punya tingkat pendidikan yang setara," sambungnya.
Istilah puber politik sendiri mulai populer dalam beberapa tahun belakangan. Fenomena tersebut menunjukkan betapa tingginya ketertarikan seseorang terhadap isu-isu politik.
Tidak ayal, pembicaraan mengenai politik mudah dijumpai di berbagai grup percakapan Whatsapp hingga warung kopi.
Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan umum. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu terkadang tidak dibarengi penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta.
Berbagai fenomena yang menyesakkan dada turut mewarnai kondisi sosial-politik di Tanah Air. Misalnya saja gara-gara beda pilihan politik tega menyuruh saudaranya memindahkan makam. Ada pula yang tidak tegur sapa lantaran beda pilihan.
Nuansa emosional dan tidak mampu menerima perbedaan acap kali mewarnai kondisi masyarakat kini. Fase tersebut menunjukkan betapa hasrat mampu mengalahkan akal sehat.
Adin melanjutkan, elite politik yang memberikan pernyataan di media massa sangat penting peranannya untuk mengedukasi publik. Oleh karena itu, diperlukan kualitas opini yang baik dan santun dari elite tersebut agar publik yang menyaksikan dapat mencontohnya.
Ia menambahkan, fase puber politik yang tengah berlangsung di Indonesia membuat politikus lebih mudah masuk ke masyarakat. Politik, kata dia, bukan hal yang tabu lagi untuk masyarakat. Puber politik bisa dikoversikan menjadi hal yang baik.
"Jadi lebih mudah masuk ke masyarakat. Politik bukan hal yang tabu lagi, terutama kita dalam menyampaikan visi-misi ke masyarakat," terangnya.
"Dalam menyatukan masyarakat sebenarnya yang harus dikurangi adalah seringnya terjadi tontonan di masyarakat argumen tidak cerdas dan hoaks yang akhirnya membuat kedua kubu jadi saling bersebrangan. Apabila kita memberikan contoh yang baik, maka masyarakat akan teredukasi," pungkas Adin.
(Hantoro)