JAKARTA - Pulau Sulawesi tersusun atas tatanan struktur geologi yang aktif bergerak dengan kecepatan pergeseran yang berbeda-beda. Artinya, Pulau Sulawesi masih sering mengalami bencana gempa bumi.
Berdasarkan buku Peta Sumber dan bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional Kementerian PUPR, yang dikutip Okezone. Pulau Sulawesi diketahui memiliki pergeseran yang berbeda-beda. Adapun di utara Sulawesi tercatat mengalami pergeseran geodetik berkisar 42-50 mm/tahun. Di darat terdapat sesar Gorontalo yang memiliki pergeseran 11 mm/tahun.
Sedangkan dari arah timur yang bergerak ke arah sesar Sorong mengalami pergerakan yang cukup signifikan berkisar 32 mm/tahun. Pada bagian tengah Sulawesi juga terdapat sesar Palukoro yang masih aktif bergerak dengan pergeseran geodetik 41-45 mm/tahun, dan pergeseran geologi 29 mm/tahun.
"Sesar Palukoro sebagai sesar dengan besar pergeseran tinggi dengan kegempaan yang rendah," demikian tulis laporan buku peta gempa 2017 yang menjadi pemutakhiran data potensi bencana gempa Indonesia.
Selanjutnya ke arah timur Sulawesi terdapat sesar Matano dengan pergeseran sekitar 20 mm/tahun. Tim Pusat Studi Gempa Nasional pun sepakat bahwa bagian tengah Pulau Sulawesi memiliki sebaran gempa yang bersifat dangkal dan acak.
Buku yang diterbitkan Pusat Penelitian Pengembangan Perumahan dan Permukiman Badan Penelitian dan Pengembangan Kenterian PUPR itu melaporkan bahwa sesar di Pulau Sulawesi mempunyai tatanan sesar rumit yang terdiri dari sesar aktif bergerak dan tidak lagi bergerak. Terdapat banyak sesar yang berada di Sulawesi.
Sesar Sulawesi itu di antaranya sesar Palu-Koro yang meliputi Makassar, Palu, Suluki, dan Moa. Kemudian sesar Matano yang meliputi Kulena, Pewusai, Matano, Pamsoa, Ballawai, dan Geressa. Sesar Naik Batui, sesar Naik Balatak. Selanjutnya sesar Makassar sampai ke Mamuju, dan Somba.
Sesar Buton, sesar Palolo, sesar Lembah Bada, sesar Besoa, Peleng, Ambelang, Sausu, Tokararu, Tondano, Poso, Loa, Weluki, Tomini, Lawanopo, sesar Tolo, Gorontalo, Walanae, Kendari, hingga sesar Sulawesi Utara yang meliputi Napu, Tarakan, dan Maleei.
(Khafid Mardiyansyah)