JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menjadi satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Maju yang tak dipanggil saat perkenalan yang berlangsung selama dua hari pada 21-22 Oktober 2019.
Muhadjir beralasan bahwa dirinya ingin bertemu terlebih dahulu dengan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir sebelum bertemu Jokowi. Ia ingin meminta masukan karena berasal dari Muhammadiyah.
"Kebetulan kan saya dari Muhammadiyah, meski saya direkrut Pak Presiden atas nama profesional ya. Tetapi karena saya punya background Muhammadiyah, ada etika pengambilan keputusan sifatnya kolektif, sehingga pagi saya diberitahu Presiden menghadap ya saya harus konsul dengan pimpinan," ujar Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).
Muhadjir menilai, ketidakhadirannya dalam perkenalan para menteri Kabinet Indonesia Maju hanya dibesar-besarkan oleh kalangan wartawan.
Meski demikian, ia tak menjawab saat ditanya soal dirinya masih ingin menjabat Mendikbud ketimbang Menko PMK. "Itu biasa saja prosesnya. Cuma teman-teman wartawan saja jadi dramatasir," ujarnya.
Muhadjir menerangkan, Presiden Jokowi telah meminta dirinya untuk mengoordinasi setiap kementerian yang ada di bawah koordinasinya. Menurut dia, Jokowi ingin membuka banyak lapangan kerja dan menciptakan talenta-talenta muda yang mampu mengharumkan nama bangsa.
Baca Juga : Profil Muhadjir Effendy, Mantan Mendikbud yang Kini Dipercaya Jabat Menko PMK
"Tadi Presiden tekankan ada dua, penyediaan lapangan kerja dengan segala prasyarat dan termasuk pelatihan dan tempat pendidikan dan lapangan kerja harus sesuai dengan keahlian anak-anak kita. Kedua manajamen talenta. Kita akan inventarisasi talenta muda yang berbakat dan kita optimalkan pembinaannya," tuturnya.
Baca Juga : Muhadjir Effendy Tiba di Istana Jelang Pengumuman Kabinet
(Erha Aprili Ramadhoni)