Kesedihan Muslim Dunia Sambut Ramadan dalam Bayang Corona

Amril Amarullah, Jurnalis
Selasa 21 April 2020 19:31 WIB
Suasana Kakbah sepi jamaah umat muslim di tengah mewabah virus corona (foto: AFP)
Share :

Langkah tersebut kembali disuarakan media kerajaan tersebut, Saudi Gazette, dalam cuitannya. Arab Saudi mencatat total 10.484 kasus virus corona pada Selasa (21/04), dengan kematian 103 orang.

"Kita berada dalam satu perahu. Jika kita sama-sama berkomitmen, kita akan mencapai pantai dengan selamat. Kita terbiasa mengadakan banyak aktivitas sosial selama Ramadan, tahun ini akan berbeda dan saya mendesak semua orang untuk berkomitmen menjaga jarak," ucap Menteri Kesehatan Arab Saudi, Tawfiq al-Rabiah, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Di Kerajaan Saudi, pemerintah menetapkan jam malam dimulai dari pukul 15.00 hingga 6.00 untuk menimimalkan jumlah penyebaran corona.

Rofi, seorang warga Indonesia yang bekerja di Arab Saudi mengaku memahami tujuan kebijakan ini, namun ia memandang bahwa pemberlakuan jam malam telah menunjukkan perubahan drastis pada tradisi orang Saudi kala menyambut bulan Ramadan.

Rofi yang bekerja sebagai sopir ini mengaku sedih Ramadan tahun ini tidak bisa pulang ke Madura lantaran negara tempatnya bekerja menutup rapat-rapat pekerja asing untuk pulang ke negaranya. Karena itu, ia secara mental mempersiapkan buka puasa dalam kondisi isolasi.

Ia mengungkapkan, bahwa sulit untuk menerima kenyataan bahwa wabah virus corona terjadi di saat Ramadan kian dekat. Ia juga kemungkinan tidak berbuka puasa bersama keluarganya. “Tapi inilah kenyataan yang harus diterimanya, tidak bisa bertemu anak dan istri di kampung, tidak ada cara lain atau saya akan membahayakan mereka,” tuturnya sedih saat kepada Okezone.com.

Masih Ada Negara Gelar Tarawih

Bukan hanya Arab Saudi, Oman juga melarang pertemuan massal selama bulan suci Ramadan dan memperpanjang protokol lockdown di ibu kota Muscat hingga 8 Mei karena kasus virus corona terus meningkat.

Virus corona di Oman sejauh ini menjangkiti 1.508 orang dan menyebabkan 8 kematian, merujuk data Universitas Johns Hopkins.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya