Corona Mulai Hinggapi KRL Jabodetabek, Penumpang Cemas

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 04 Mei 2020 17:58 WIB
Penumpang KRL dari Jakarta ke Bogor, Senin (4/5/2020) sore (Foto Evi Yulianti)
Share :

FARDIANSYAH mengendarai sepeda motor dari Citayam, Kabupaten Bogor ke Jakarta untuk bekerja, Senin (4/5/2020) pagi. Dia takut naik KRL Commuterline usai membaca berita tiga penumpang lokomotif listrik relasi Jakarta-Bogor positif terinfeksi Covid-19.

“Takut, udah tiga orang kena (virus corona),” begitu alasan Fardiansyah.

Sebelum diumumkan ada penumpang kena corona, Fardiansyah pengguna setia KRL. Biasanya, dia naik motor dari rumah ke Stasiun Citayam lalu nyambung KRL ke Jakarta.

Baca juga: "Kalau KRL Berhenti Saya Enggak Bisa ke Mana-mana"

Tapi, pagi tadi, Fardiansyah rela basah-basahan menunggangi motor di tengah gerimis sampai ke Jakarta, untuk menghindari corona yang diyakini berisiko tersebar di KRL. “Mending hujan-hujanan dah.”

Sementara Evi Yulianti, warga Depok tetap naik KRL. “Kalau takut pasti takut, tapi saya juga harus keluar cari nafkah buat keluarga,” ujarnya.

Evi memilih KRL dari Stasiun Depok Lama karena ongkosnya murah. “Saya bekerja di Jakarta Pusat dan rumah di Depok, angkutan yang paling terjangkau hanya KRL. Kalau pun ada taksi harganya tidak terjangkau.”

KRL Commuterline (Okezone.com)

KRL menjadi primadona warga Jabodetabek bepergian terutama yang bekerja di Jakarta. Selain bebas macet, ongkosnya juga murah, meski harus berdesakan. Karena banyak pengguna, KRL dinilai sebagai angkutan massal paling rawan penyebaran Covid-19.

Minggu 2 Mei kemarin, diumumkan tiga penumpang KRL positif corona berdasarkan hasil tes swab yang dilakukan terhadap 350 pengguna jasa lokomotif itu di Stasiun Bogor, pada Senin 27 April 2020 lalu spesimennya diperiksa di Laboratorium Kesehatan Jawa Barat.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto prihatin mendengar informasi itu. "Transportasi publik dan kerumunan jadi pusat penyebaran virus dari Orang Tanpa Gejala (OTG)," kata Bima.

Dia berjanji akan lebih memperketat pengawalan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Bogor dan sekitarnya. “Meminta Kementerian Perhubungan mengevaluasi kebijakan operasional kereta api.”

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Hermawan Saputra meyakini jumlah penumpang kena corona lebih dari tiga, jika pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh terhadap penumpang di semua relasi layanan KRL.

“Wilayah Jabodetabek ini kan zona merah sudah terjadi lokal transmission,” katanya kepada Okezone.

KRL Masih Padat

Gubernur Jawa Baratbar Ridwan Kamil menilai PSBB bisa gagal jika KRL masih padat. “KRL yang masih padat bisa menjadi transportasi OTG pembawa virus. PSBB bisa gagal,” katanya.

Penumpang Penumpang KRL di Stasiun Depok Lama (Foto Evi Yulianti)

Kang Emil melalui akun Twitternya @ridwankamil mengaku, sudah melaporkan ke Gugus Tugas Covid-19 dan Kemenhub. "Semoga ada respons terukur dari pihak operator KRL."

Baca juga: Alasan KRL Tetap Beroperasi di Tengah Covid-19

VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba mengatakan, pihaknya sudah mewajibkan physical distancing atau jaga jarak fisik bagi pengguna KRL untuk cegah corona. Tiap gerbong dibatasi hanya 60 orang.

“Kami mengajak para pengguna untuk tetap bersabar menunggu KRL yang kosong agar tetap menjaga physical distancing," kata Anne, Senin.

Tapi, di lapangan ajakan itu tak selalu dipatuhi. Penumpang tetap saling berdekatan dalam gerbong saat jam sibuk; berangkat dan pulang kerja.

Evi Yulianti bersaksi saat naik KRL pagi dan sore. “Kalau pagi jam kerja antara jam 6-8 masih terbilang cukup rapat. Sore juga masih padat biasa pukul 16.30-17.00 WIB,” katanya.

KCI mencatat jumlah penumpang KRL sebelum pandemi corona mencapai 1 hingga 1,1 juta per hari. Namun, sejak 24 April atau saat larangan mudik mulai berlaku, jumlahnya tak sampai 200 ribu orang per hari.

Menurut Anne, KRL masih padat karena banyak perusahaan di Jakarta tetap mewajibkan karyawannya masuk kantor meski lagi PSBB. "Banyak perusahaan yang belum menginstruksikan karyawan bekerja dari rumah," ujar Anne.

Baca juga: 3 Penumpang KRL Positif Corona, PT KCI Ajak Pemda Kerja Sama

Masyarakat yang terpaksa naik KRL untuk bekerja diminta tetap mematuhi protokol kesehatan. "Kami tetap berupaya meningkatkan berbagai upaya pencegahan terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan prokotol pencegahan Covid-19 di transportasi publik, physical distancing, dan mengendalikan kepadatan pengguna di KRL."

PT KCI meminta bantuan pemerintah daerah agar masyarakat mematuhi physical distancing.

KRL Diminta Setop

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syarif Abdullah Alkadrie menilai, pemerintah sudah layak menghentikan sementara operasional KRL selama PSBB di Jabodetabek, agar jangan bertambah lagi yang tertular corona.

"Seharusnya pemerintah juga tanggap supaya ini hentikan (operasional) KRL," ujarnya menanggapi tiga penumpang KRL positif corona.

Menurut Syarif, physical distancing sulit berjalan jika KRL masih beroperasi. “Di situ tidak akan terjadi physical distancing karena itu tetap berdesak-desakan," tuturnya.

Penilaian serupa diungkapkan Hermawan Saputra. “Selama PSBB dilakukan di DKI dan Jawa Barat seharusnya moda transportasi publik seperti kereta itu disetop sementara,” katanya.

“Apa gunanya meneriakan PSBB di perkantoran, tetapi di hulunya transportasi saat media menuju kantornya ramai-ramai?”

Gubernur Ridwan Kamil, Gubernur DKI Anies Baswedan dan kepala daerah lain di Bodebek sudah minta agar KRL setop sementara.

Tapi, Kemenhub menolaknya. KRL tetap diizinkan beroperasi dengan membatasi jumlah penumpang. “Membatasi jam operasional, dan menempatkan petugas untuk mengawasi physical distancing," kata Dirjen Perekeretaapian Kemenhub, Zulfikri.

KRL dinilai masih banyak dibutuhkan masyarakat, jika berhenti beroperasi dikhawatirkan muncul masalah baru.

Reporter: Fadel Prayoga, Harits Tryan Akhmad

Dirangkum oleh Salman Mardira 

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya