DEPOK - Virus Corona tak hanya berdampak pada sisi kesehatan. Justru, Pandemi Covid-19 lebih merusak dari sisi ekonomi karena adanya pembatasan aktivitas masyarakat.
Hal yang sama juga terjadi pada para pemulung di Tanjung Priok, Jakarta Utara dan relawan Sungai Ciliwung di Depok Jawa Barat. Mereka harus memikirkan cara lain untuk mendapatkan penghasilan lain di tengah Pandemi Covid-19.
Para pemulung di Yayasan Kumala contohnya. Yayasan Kumala sendiri berdiri sejak tahun 2006 oleh seorang yang akrab disapa Abah Dindin sejak awal berfokus kepada pengelolaan lingkungan dan sosial kemanusiaan.
Kegiatan yang dialakukan oleh Yayasan Kumalah berupa pengelolaan sampah, sehingga bisa bernilai jual melalui Bank Sampah yang melibatkan masyarakat menengah ke bawah seperti tuna wisma, anak jalanan, dan pemulung dan merupakan kategori Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Warga binaan Yayasan Kumala dijadikan sebagai agen lingkungan dalam penerapan 5R tersebut. Beberapa orang mungkin melihat anak-anak jalanan sebagai orang yang tidak terdidik, kriminal, dan harus dijauhi. Abah Dindin memiliki cara pandang yang berbeda, ia sangat peduli dengan masa depan anak-anak jalanan di sekitar tempatnya agar lebih berdaya.
“Saya berkeinginan untuk ikut membantu anak-anak jalanan agar bisa hidup seperti warga lainnya. Di Yayasan Kumala dilakukan pembinaan supaya tidak kembali lagi ke jalanan. Anak binaan juga mendapat pelatihan membuat kertas daur ulang ataupun kerajinan tangan bernilai ekonomis. Dengan demikian, kendati tidak mengamen, mereka tetap bisa mendapatkan penghasilan,” ucap Abah Dindin.
Yayasan Kumala saat ini telah membina 300 anak jalanan untuk bergabung dan dilatih keterampilan wirausaha. Anak-anak jalanan tersebut dibekali kemampuan agar bisa mengolah sampah anorganik seperti kertas untuk dijadikan berbagai barang seperti goodie bag dan souvenir yang dapat memberikan nilai tambah, sedangkan sampah organik diolah untuk dijadikan pupuk kompos.
Menurut Abah Dindin, kegiatan pembinaan tersebut bermanfaat untuk mengajarkan kemandirian kepada para anak jalanan. Hasil dari pengelolaan sampah tersebut menjadi tabungan yang dikumpulkan di Bank Sampah untuk digunakan pada kegiatan sosial yang telah disusun bersama seperti pengobatan gratis, pembagian sembako, bantuan pendidikan dan perlengkapan sekolah.
Kondisi pandemi Covid-19 saat ini sangat berdampak pada aktivitas kalangan PMKS. Pada biasanya mereka beraktivitas di jalanan, mencari nafkah di jalanan. Mereka melakukan kegiatan mencari barang bekas dan ditabung ke Bank Sampah Kumala, namun saat ini mereka terhambat karena tidak boleh berkeliaran.