Dilema Pemulung: Bekerja Takut Corona, Diam di Rumah Tak Dapat Penghasilan

Wahyu Muntinanto, Jurnalis
Rabu 13 Mei 2020 08:46 WIB
Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)
Share :

DEPOK - Virus Corona tak hanya berdampak pada sisi kesehatan. Justru, Pandemi Covid-19 lebih merusak dari sisi ekonomi karena adanya pembatasan aktivitas masyarakat.

Hal yang sama juga terjadi pada para pemulung di Tanjung Priok, Jakarta Utara dan relawan Sungai Ciliwung di Depok Jawa Barat. Mereka harus memikirkan cara lain untuk mendapatkan penghasilan lain di tengah Pandemi Covid-19.

Para pemulung di Yayasan Kumala contohnya. Yayasan Kumala sendiri berdiri sejak tahun 2006 oleh seorang yang akrab disapa Abah Dindin sejak awal berfokus kepada pengelolaan lingkungan dan sosial kemanusiaan.

Kegiatan yang dialakukan oleh Yayasan Kumalah berupa pengelolaan sampah, sehingga bisa bernilai jual melalui Bank Sampah yang melibatkan masyarakat menengah ke bawah seperti tuna wisma, anak jalanan, dan pemulung dan merupakan kategori Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Warga binaan Yayasan Kumala dijadikan sebagai agen lingkungan dalam penerapan 5R tersebut. Beberapa orang mungkin melihat anak-anak jalanan sebagai orang yang tidak terdidik, kriminal, dan harus dijauhi. Abah Dindin memiliki cara pandang yang berbeda, ia sangat peduli dengan masa depan anak-anak jalanan di sekitar tempatnya agar lebih berdaya.

“Saya berkeinginan untuk ikut membantu anak-anak jalanan agar bisa hidup seperti warga lainnya. Di Yayasan Kumala dilakukan pembinaan supaya tidak kembali lagi ke jalanan. Anak binaan juga mendapat pelatihan membuat kertas daur ulang ataupun kerajinan tangan bernilai ekonomis. Dengan demikian, kendati tidak mengamen, mereka tetap bisa mendapatkan penghasilan,” ucap Abah Dindin.

Yayasan Kumala saat ini telah membina 300 anak jalanan untuk bergabung dan dilatih keterampilan wirausaha. Anak-anak jalanan tersebut dibekali kemampuan agar bisa mengolah sampah anorganik seperti kertas untuk dijadikan berbagai barang seperti goodie bag dan souvenir yang dapat memberikan nilai tambah, sedangkan sampah organik diolah untuk dijadikan pupuk kompos.

Menurut Abah Dindin, kegiatan pembinaan tersebut bermanfaat untuk mengajarkan kemandirian kepada para anak jalanan. Hasil dari pengelolaan sampah tersebut menjadi tabungan yang dikumpulkan di Bank Sampah untuk digunakan pada kegiatan sosial yang telah disusun bersama seperti pengobatan gratis, pembagian sembako, bantuan pendidikan dan perlengkapan sekolah.

Kondisi pandemi Covid-19 saat ini sangat berdampak pada aktivitas kalangan PMKS. Pada biasanya mereka beraktivitas di jalanan, mencari nafkah di jalanan. Mereka melakukan kegiatan mencari barang bekas dan ditabung ke Bank Sampah Kumala, namun saat ini mereka terhambat karena tidak boleh berkeliaran.

Sementara di sisi lain, mereka memiliki kebutuhan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari untuk makan dan lain-lain.

“Menjadi dilema buat kami, karena di satu sisi kami mengarakan mereka untuk tidak berkeliaran karena khawatir akan penyebaran virus, tetapi di sisi lain mereka butuh mencari uang untuk mencari makan. Dengan pendekatan dan pendampingan dari Yayasan Kumala, kita terus mengarahkan mereka bila memang harus turun ke jalan, mereka harus melindungi diri (safety). Minimal memakai masker, dan setelah mengumpulkan sampah harus cuci tangan pakai sabun,” jelas Abah Dindin.

Yayasan Kumala di masah wabah COVID-19 ini mengarahkan alternatif kegiatan lain yang lebih produktif di Bank Sampah dan memberikan bantuan untuk makanan mereka setiap hari.

Menurut Abah Dindin, saat ini di lapangan Pemerintah sudah mencoba memberikan program bantuan langsung kepada masyarakat. Akan tetapi pada kenyataannya, di lapangan banyak masyarakat binaan kita yang tidak memiliki akses ke bantuan tersebut dikarenakan tidak semua pemulung dan anak jalanan memiliki Kartu Keluarga (KK) dan KTP.

“Sebagai contoh warga yang tinggal di bawah kolong jembatan itu tidak pernah mendapatkan bantuan, sementara mereka adalah yang betul-betul membutuhkan,” jelas Abah Dindin.

Yayasan Kumala jadi salah satu komunitas yang mendapat bantuan dari Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Ditjen PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Selain Yayasan Kumala, salah satu komunitas yang mendapat bantuan adalah Sahabat Ciliwung, di Depok Jawa Barat.

Bantuan yang diberikan berbentuk beras sebanyak 200 kg, sabun cuci tangan sebanyak 6.336 buah, suplemen vitamin sebanyak 10.080 buah, serta masker kain sebanyak 15.000 buah dan diharapkan dapat mengurangi beban kebutuhan pokok selama Ramadhan dan perlindungan diri dari pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal PPKL, M.R. Karliansyah menyatakan bersyukur dapat membantu masyarakat terdampak Covid. Bukan kali ini saja, beberapa waktu lalu juga Ditjen PPKL KLHK telah menyalurkan bantuan sabun, masker, menyemprotkan disinfektan ke sejumlah tempat di Jakarta dan Tangerang Selatan.

“Kegiatan ini sebagai solidaritas dan empati sesama manusia untuk membantu seluruh warga terdampak Covid-19. Diharapkan menjadi contoh baik sehingga yang lain dapat juga bergerak bersama untuk mengatasi dampak sosial ekonomi akibat Covid-19,” katnya.

Dirjen Karliansyah juga mengatakan, tujuan kegiatan saat ini adalah menitipkan bantuan kepada komunitas yang tepat sehingga bantuan diberikan juga tepat sasaran.

Pemberian paket bantuan dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Sehingga, diberikan dengan diantar ke rumah masing-masing warga yang terdampak Covid-19. Warga terdampak yang menerima paket sembako sudah didata oleh komunitas.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya