6 Laskar FPI Ditembak Polisi, KontraS: Harusnya Dilumpuhkan Bukan Dimatikan

Tim Okezone, Jurnalis
Selasa 15 Desember 2020 14:52 WIB
Ambulans saat membawa jenazah laskar FPI (foto: Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengungkap ada sejumlah keganjilan dalam kasus tembak mati enam Laskar Front Pembela Islam (FPI) di Tol Jakarta - Cikampek (Japek) Kilometer 50.

Wakil Koordinator KontraS, Rivanlee Anandar mengatakan, keganjilan tersebut di mana aparat mengintai Imam Besar FPI, Habib Rizieq Syihab. Lalu dalam perjalanannya, enam orang pengawal pentolan FPI tewas ditembak aparat.

"Nah pra peristiwa ini menunjukkan bahwa adanya kejanggalan. Jangan-jangan ada tujuan untuk mematikan mereka. Kalau enam orang memiliki info penting, polisi harusnya melumpuhkan, bukan mematikan, karena kembali ke tujuan, menggali informasi penting. Tapi fakta berkata lain, dimatikanlah, jadi informasi apa yang akan dicari? Itu tidak sesuai tujuan awalnya," kata Rivanlee kepada Okezone, Selasa (15/12/2020).

Baca jaga:  Berlinang Air Mata, Syekh Ali Jaber : Semoga 6 Laskar FPI Diterima Allah sebagai Syuhada

Sementara itu, keganjilan pada saat peristiwa adalah banyaknya informasi sumir atas hal itu. Keterangan pihak Kepolisian dengan FPI berbeda terkait peristiwa. Polisi menyebut adanya penyerangan dari korban. Sedangkan FPI mengatakan sebaliknya.

Baca juga: Tiba di Komnas HAM, Dirut Jasa Marga Membisu 

Lalu, Rivanlee menilai informasi yang disampaikan Bareskrim Polri pasca rekonstruksi juga nampak mengada-ngada. Semisal, empat anggota FPI yang disebut-disebut bersenjata itu dibawa ke dalam mobil polisi tanpa diborgol. Lalu dari situ terjadi perlawanan sehingga terpaksa dibedil.

"Info hasil rekonstruksi yang disampaikan Bareskrim itu juga kelihatannya mengada-ngada, penuh dengan pertanyaan, setiap mengeluarkan pernyataan ada pertanyaan lanjutannya," imbuhnya.

 

"Empat orang yang didudga memiliki sajam atau senpi kok ditangkap biasa aja dan dimasukkan ke mobil tanpa pertimbangan di luar mobil, itu kan alasan mereka mematikan. Apakah polisi tidak mengukur bagaimana kondisi di luar atau sebelumnya? Kalau punya sajam senpi pasti ada langkah yang diambil untuk menjaga yang didalam mobil. Ini terkesan seperti tak siap. Padahal pengintaian harus ada persiapan sebelumnya," tambahnya.

Terakhir, keganjilan pasca peristiwa, Rivanlee melihat banyak sekali keterlibatan polisi dalam pembentukan tim investigasi. Seharusnya, kata dia, tim untuk menyelidiki kasus tersebut harus didominasi oleh pihak non polisi. Tujuannya untuk menjaga independensi serta memastikan kasus ini dituntaskan sehingga tidak terjadi keberulangan.

"Tim indendepan harus lebih banyak diisi oleh non polisi. Tugas polisi ya menjamin setiap aksesnya. Menjamin akses info, dukungan bukti , dan sebagainya, untuk sampaikan seada-adanya. Kalau polisi gak menjamin itu, harus ada jaminan dari yang lebih tinggi, Presiden. Dia harus bisa beri jaminan itu kepada tim independen ini," tutup Rivanlee.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya