Selain itu, lanjut Moeldoko, kehadiran GeNose C19 telah melampaui negara-negara lain yang saat ini masih mengembangkan penelitian untuk mencegah penyebaran COVID-19.
“Maka, akan saya dorong secara masif tidak hanya sebagai temuan, tapi untuk meyakinkan semua pihak bahwa GeNose C19 merupakan alat yang diperlukan,” jelas Moeldoko.
Di tempat yang sama, Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menambahkan, GeNose C19 merupakan suatu terobosan teknologi yang bisa mendeteksi COVID-19 dengan pendekatan yang sederhana dan murah.
Bambang berharap, temuan ini bisa benar-benar dimanfaatkan berbagai pihak. Terlebih, katanya, UGM dan perusahaan konsorsium siap memproduksi hingga 5.000 GeNose C19 pada Februari 2021 mendatang.
“Untuk saat ini kami hibahkan satu unit GeNose C19 untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan Istana. Nantinya kami juga akan mendorong berbagai pihak, terutama di pusat keramaian seperti bandara, stasiun kereta, terminal bus, kampus, pabrik, dan perkantoran untuk menggunakan alat ini,” imbuh Bambang.
Namun Bambang menegaskan, GeNose C19 bukan alat diagnosa. Bambang bilang, alat ini merupakan bagian dari penerapan program 3T (testing, tracing, treatment) yang mendeteksi senyawa pada pernafasan manusia.