Cegah Stunting, BKKBN: Ingin Bayi Bagus, "Pabriknya" Harus Bagus

Abdul Rochim, Jurnalis
Sabtu 06 Februari 2021 04:17 WIB
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengingatkan pentingnya menyiapkan kesehatan yang prima sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. hampir 50% kasus stunting terjadi dari proses kehamilan. Dia mengibaratkan orang hamil sebagai "pabrik" pembuat bayi.

"Kalau kita ingin bayi bagus maka 'pabriknya' harus bagus. Logikanya begitu. Kalau kita ingin membikin bayi bagus, siapa yang akan membikin bayi ini harus bagus juga," katanya, Jumat (5/2/2021).

Karena itu, prosesnya harus dikawal sejak dini dengan tertib dan disiplin. Menurutnya, sebelum proses kehamilan, pasangan suami-istri harus melakukan cek kesehatan. "Inilah upaya kita yang harus mereformasi sistem layanan di tingkat bawah dengan membangun sistem kesehatan dalam mencegah stunting," tuturnya.

Baca Juga: Cegah Stunting, Calon Pengantin Harus Lapor Tiga Bulan Sebelum Nikah

Hasto juga mengkritik kebiasaan masyarakat yang memilih mengeluarkan biaya hingga puluhan juta untuk sekadar melakukan prewedding, namun tidak memikirkan hal yang lebih mendesak yakni prakonsepsi. "Kritik saya orang melakukan prewedding habis banyak, Rp20 juta sampai ratusan juta, tapi prakonsepsi tidak pernah dipikirkan. Konsepsi itu adalah bertemunya sel telur dengan sperma. Itu tak pernah dipikirkan," katanya.

Menurutnya, di sejumlah negara maju, para calon pengantin menjadikan prakonsepsi sebagai prioritas sebelum menuju ke jenjang pelaminan. "Prakonsepsi itu sangat murah, hanya minum asam folat, periksa hb (hemoglobin), minum tablet tambah darah gratis kalau di Puskesmas, itu nggak habis Rp20 ribu. BPJS malah nggak bayar. Suami hanya perlu mengurangi rokoknya, kemudian suami minum zinc supaya spermanya bagus, itu prakonsepsi," urainya.

Hasto menegaskan, langkah ini sangat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya stunting atau tumbuh kembang anak kerdil. Menurutnya, banyak kesalahpahaman pemikiran (mindset) di tengah masyarakat yang perlu diluruskan. Dia mencontohkan, perempuan yang ingin tampil langsing dengan melakukan diet ketat sehingga membuat kondisi kesehatan justru tidak menjadi prima.

"Mindset ini penting untuk ditata. Kita juga banyak yang sok tahu, tapi tak tahu. Misalnya ingin langsing, sok tahu, ingin langsing, diet ketat, padahal perempuan itukan menstruasi setiap bulan, bleeding (perdarahan) 100-200 cc. Kalau dia kekurangan nutrisi, anaknya bisa stunting, kan repot. Nah itulah makanya kita harus berjuang keras disitu," tuturnya.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Akui Target Penurunan Stunting 14 Persen Tak Mudah

Diketahui, Pemerintah menargetkan tingkat prevalensi stunting di Indonesia bisa turun menjadi 14% pada 2024. Pada 2019, tingkat prevalensinya sudah mencapai 27,9%, menurun dari 37% pada 2013. Namun, tren penurunan itu dinilai belum cukup.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya